pers-scaled.jpg
 20230731_193802.gif
 323276293_566466371650625_8427709249684468411_n-scaled.jpg

Penggunaan gawai menjadi alternatif bagi banyak kegiatan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah kemudahan transaksi yang dapat dilakukan secara online melalui media digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan e-commerce. Kemudahan ini berimbas pada peningkatan angka-angka penggunaan transaksi online.

Dilansir dari katadata.co.id, Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa penggunaan QRIS di Indonesia sepanjang 2023 mencapai Rp229,96 triliun. Jumlah pengguna QRIS dan merchant-nya sebagian besar merupakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yakni 122.628 pada triwulan pertama 2023.

Transaksi nontunai, seperti QRIS, uang elektronik, dan pembayaran menggunakan kartu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami pertumbuhan meski lambat pada triwulan pertama 2024 dibandingkan triwulan di tahun sebelumnya yang merupakan imbas dari aktivitas, dan ekspor timah yang belum normal. Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Faturachman mengatakan bahwa kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan digitalisasi memberikan banyak manfaat, salah satunya adalah mempermudah transaksi online.

Selain itu, maraknya penggunaan transaksi online dapat dilihat dari angka dan persentase e-commerce di Indonesia yang terus meningkat di beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan gawai untuk penggunaan e-commerce dan transaksi online menawarkan banyak kelebihan yang disenangi oleh masyarakat, seperti akses yang mudah dan cepat, sehingga lebih hemat waktu dan tenaga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022/2023, jumlah usaha e-commerce tahun 2022 mengalami pertumbuhan sebesar 4,46%. Masyarakat Indonesia memanfaatkan kemudahan digital melalui gawai untuk melakukan transaksi lebih mudah di mana saja dan kapan saja. Hal tersebut dikarenakan peningkatan angka e-commerce juga memaksa banyak masyarakat untuk bertransaksi dan melakukan pembayaran secara online.

Namun, diketahui terdapat ketimpangan dari persentase penyebaran usaha e-commerce di Indonesia pada tahun 2022, yaitu berdasarkan data yang sama diketahui bahwa 73,38% usaha e-commerce berada di Pulau Jawa, bahkan persentase satu provinsi di pulau Jawa mengalahkan persentase dari satu Pulau Sumatera yang hanya berada di angka 11,03%. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar antara pulau Jawa dan Sumatera, di mana Jawa masih menjadi pusat dari berbagai perusahaan besar di Indonesia, sehingga pulau jauh lebih berkembang dibandingkan pulau-pulau lainnya.

Kemudahan tersebut juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat terutama di Bangka Belitung. Berdasar data BPS, di Pulau Sumatera, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sampai dengan 28 Februari 2023 diketahui memiliki persentase usaha e-commerce sebesar 29,19%. Dibandingkan dengan provinsi di Pulau Sumatera lainnya, Babel memiliki persentase yang cukup tinggi.

Artinya, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Babel tidak tertinggal dalam hal memanfaatkan gawai. Dari hal tersebut juga dapat dilihat bahwa Babel semakin cakap digital dalam hal akses transaksi online dan penggunaan e-commerce, walaupun dari data yang sama oleh BPS, juga diketahui 78,58% pemilik usaha tidak melakukan transaksi online, karena masih merasa nyaman dengan berjualan offline, yang berarti masih ada sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memanfaatkan gawai untuk kemudahan transaksi secara online.

Sumber : Diskominfo Babel

Penulis : Putri Fadyla

Fotografer : GOOGLE

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *