Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Para “Raja” Timah di Bukit Samak: Elite Penguasa Tambang Belitung Timur
Img 20250725 101132

Para “Raja” Timah di Bukit Samak: Elite Penguasa Tambang Belitung Timur

Img 20250725 101040

oleh: Akhlanudin*)

Antara dekade 1970 hingga awal 1990-an, Bukit Samak di Manggar menjadi jantung kekuasaan industri tambang timah Belitung Timur. Di sanalah para kawiilasi—sebutan bagi Kepala Wilayah Produksi PT Timah—menempati vila-vila megah dengan panorama laut dan kota yang membentang luas di bawah kaki bukit.

Mereka bukan sekadar pengelola tambang; dalam struktur sosial lokal, mereka bertindak layaknya “raja”: memimpin ribuan pekerja, mengendalikan perputaran ekonomi, dan menentukan kebijakan operasional yang berdampak besar pada masyarakat sekitar.

Rumah-rumah mereka menjadi simbol status, tempat lahirnya keputusan-keputusan strategis yang menggerakkan roda produksi timah nasional.

Jejak Para Kepala Wilayah Produksi (1970–1992)

Selama lebih dari dua dekade, sejumlah nama besar pernah menjabat sebagai Kepala Wilayah Produksi Timah Manggar. Di antaranya:

  • Ir. H. Syahrial (1970–1975): dikenal sebagai sosok teknokrat yang memperkenalkan sistem zonasi tambang dan memperluas jaringan logistik ke daerah terpencil. Di bawah kepemimpinannya, produksi timah Manggar mencapai rekor ekspor ke Jepang dan Eropa.
  • Ir. M. Tamin (1975–1980): membawa pendekatan manajerial modern, termasuk sistem insentif bagi pekerja tambang dan penguatan hubungan dengan pemerintah daerah. Ia juga memprakarsai pembangunan fasilitas olahraga dan pendidikan bagi keluarga karyawan.
  • Ir. Suyatno (1980–1986): dikenal sebagai figur yang dekat dengan masyarakat. Ia aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi mediator antara perusahaan dan warga saat terjadi konflik lahan. Di masa jabatannya, Bukit Samak mengalami renovasi besar-besaran.
  • Ir. H. Zulkifli (1986–1992): menjabat di masa transisi menjelang penutupan tambang primer. Ia fokus pada efisiensi operasional dan program pensiun bagi pekerja. Zulkifli juga tercatat sebagai kepala wilayah terakhir sebelum Bukit Samak kehilangan statusnya sebagai pusat produksi.

Para kawiilasi ini biasanya bergelar insinyur atau manajer senior, dipindah-tugaskan dari pusat PT Timah di Pangkalpinang ke Belitung Timur.

Kehadiran mereka membawa gaya hidup urban yang kontras dengan kehidupan kampung di sekitarnya—lengkap dengan kendaraan dinas, fasilitas olahraga, hingga akses eksklusif ke logistik perusahaan. Pengaruh mereka juga terasa di bidang sosial dan politik lokal, menjalin hubungan dengan tokoh masyarakat, pemda, bahkan aparat keamanan.

Tahun 1992 menandai berakhirnya masa keemasan itu, ketika tambang primer ditutup dan Bukit Samak mulai kehilangan aura keistimewaannya. Vila-vila yang dahulu berdiri megah perlahan beralih fungsi, dan kisah para “raja” tambang pun tinggal kenangan—namun tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah Manggar.

  • Akhlsnudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – 2018

Artikel Terkait

Inshot 20260112 191823948

Gus Ipul Menangis, Dipeluk Presiden…

Intisari Berita Banjarbaru, Kalimantan Selatan –…

Inshot 20260112 180501098

Gubernur Gelar Rakor di Belitung…

Intisari Berita Tanjung pandan Belitung– Gubernur…

Inshot 20260112 161720654

Para Pejabat Utama Polda Babel…

Intisari Berita Pangkal pinang Bangka Belitung…

Para “Raja” Timah di Bukit Samak: Elite Penguasa Tambang Belitung Timur – Media Daulat Rakyat