
Belitung tak hanya dikenal dengan pesona alam dan warisan budayanya, tetapi juga dengan seni bonsai yang kian mendunia. Tiga jenis bonsai endemik daerah ini—sapu-sapu (Backea Fantesces), sekuncung (Liptos Furmuen), dan nasi-nasi (Sysyigium Boxifolia)—telah menembus pasar internasional, menjadi koleksi dan kontestan di berbagai negara.
Menurut Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Belitung, Benny Andrea, bonsai asal Belitung telah merambah India, Singapura, dan Malaysia. India tercatat memiliki bonsai nasi-nasi, sementara bonsai sapu-sapu menjadi favorit di Singapura dan Malaysia.
“Bonsai ini sudah sampai ke luar negeri, dan memang menjadi andalan Belitung. Ada yang sekadar hobi, ada pula yang dijual. Pemasarannya biasanya lewat pameran, baik nasional maupun Asia Pasifik,” ujar Benny.
Harga dan Modal: Seni yang Bernilai Relatif
Harga bonsai Belitung sangat bergantung pada tingkat kematangan dan keunikan bahan. Bonsai sapu-sapu pernah terjual hingga Rp 8 juta, sementara sekuncung dan nasi-nasi mencapai Rp 5 juta. Namun, nilai seni bonsai bisa melambung jauh lebih tinggi.
“Bisa saja Rp 100 ribu, bisa juga Rp 1 miliar lebih. Karena bonsai adalah seni, bukan sekadar tanaman,” jelas Benny.
Untuk pemula, modal awal bonsai ukuran medium bisa mencapai Rp 5,4 juta, termasuk media tanam, pot, obat-obatan, dan ongkos pencarian bahan. Namun, bagi yang sudah memiliki perlengkapan, biaya bisa ditekan lebih rendah.
Proses Pembentukan: Miniatur Pohon, Jiwa Seni
Bonsai merupakan seni mengerdilkan pohon besar ke dalam pot, menciptakan miniatur yang tetap mempertahankan karakter asli pohon. Proses pembentukan bisa memakan waktu antara dua hingga tujuh tahun, tergantung jenis dan ukuran.
“Kalau sapu-sapu, bisa sampai tujuh tahun karena tidak punya dahan. Tapi yang berdahan bisa dua sampai tiga tahun,” ungkap Fajar, pengurus PPBI Belitung.
Proses awal dimulai dari pemilihan jenis bonsai, pemotongan akar secara hati-hati, pengepotan sementara, dan pengliaran selama 4–6 bulan. Setelah itu, dilakukan pemilihan bakal dahan berdasarkan karakter batang, dilanjutkan dengan masa training dan pembentukan karakter.
“Setelah titik dahan didapat, bonsai dibiarkan agar dahan cepat membesar,” jelas H Mustajab (Ajab), pegiat bonsai senior.
Bonsai dan Pariwisata: Mengenalkan Belitung ke Dunia
PPBI Belitung, yang berdiri sejak 1991, kini menaungi sekitar 50 anggota aktif. Namun, jumlah pencinta bonsai di Belitung diperkirakan telah mencapai ratusan orang, tersebar hingga ke desa-desa.
“Pertumbuhan pencinta bonsai sangat pesat, naik 50–60 persen dalam setahun terakhir. Lewat bonsai, kami juga mengenalkan pariwisata Belitung di kontes Asia Pasifik,” pungkas Benny.
Dengan perpaduan seni, ketekunan, dan kecintaan terhadap alam, bonsai Belitung tak hanya menjadi hobi, tetapi juga medium diplomasi budaya dan promosi pariwisata yang menjanjikan.
.












