
Manggar, Belitung Timur — Dalam sejarah pendidikan di Belitung Timur, nama-nama seperti Bahassan, Abdul Madjid, Abdul Karim, Mustar Kulo’, Mat Rani, Syarif Saher, dan Parto Atmadja bukan sekadar tokoh—mereka adalah fondasi. Dikenal sebagai De Zeven Heren atau “Tujuh Bapak Pendidik,” ketujuh tokoh ini menjadi pionir pendidikan formal di Manggar, jauh sebelum sistem nasional mapan.
Jejak Awal Pendidikan di Manggar
Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, akses pendidikan di Belitung Timur sangat terbatas. Namun, para tokoh ini mendirikan dan mengajar di lembaga-lembaga awal seperti SR (Sekolah Rakyat), ELS (Europese Lagere School), dan Institut Manggar—yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya para pendidik visioner
Gedung Institut Manggar di Jalan Kartini, Desa Lalang, menjadi saksi bisu perjuangan mereka dalam mencerdaskan anak negeri.
Peran dan Warisan
- Bahassan dikenal sebagai penggerak literasi lokal, aktif mengajar dan membina generasi muda di masa transisi kemerdekaan.
- Abdul Madjid, yang juga dikenal sebagai Pak Kecit, menjadi figur sentral dalam pengembangan kurikulum berbasis lokal dan adat
- Abdul Karim dan Mustar Kulo’ memainkan peran penting dalam membangun jembatan antara pendidikan formal dan nilai-nilai masyarakat setempat.
- Mat Rani dan Syarif Saher dikenal sebagai guru yang tak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan semangat kebangsaan.
- Parto Atmadja, dengan pendekatan disiplin dan humanis, menjadi inspirasi bagi banyak pendidik muda di Manggar.
Dampak Jangka Panjang
Berkat dedikasi mereka, Manggar berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan di Belitung Timur. Sekolah-sekolah seperti SMP Negeri Manggar dan SMA Pergib Manggar tumbuh dari fondasi yang mereka bangun
Banyak alumni dari generasi awal yang kemudian menjadi guru, pejabat, dan tokoh masyarakat, meneruskan semangat De Zeven Heren.
Pengakuan dan Refleksi
Pada peringatan Hari Guru dan berbagai acara pendidikan lokal, nama-nama mereka kerap disebut sebagai simbol perjuangan dan keteladanan. Komunitas dan Pemda Beltim telah mengupayakan dokumentasi sejarah mereka sebagai bagian dari warisan budaya pendidikan Belitung Timur












