
Pisangan Timur, 16 September 2025 — Dalam rangkaian reflektif yang menyentuh dan penuh makna, Edy Sukardi kembali menyuarakan keresahan dan harapan melalui puisi-puisinya yang dipublikasikan oleh [Media Daulat Rakyat]
Karya terbarunya bukan sekadar untaian kata, melainkan seruan batin untuk berdamai dengan luka, melepaskan dendam, dan menyambut tongkat estafet perubahan.
Puisi berjudul “Bukan Beban di Pundak” membuka dengan pengakuan bahwa yang berat bukanlah beban fisik, melainkan luka yang belum sembuh. Sukardi mengajak pembaca untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan tidak terjebak dalam keinginan untuk selalu menang. “Maaf itu akan menyembuhkan dirimu,” tulisnya, menegaskan bahwa penyembuhan sejati datang dari dalam.
Dalam bait-bait berikutnya, ia menyentuh tema kelelahan eksistensial, kecepatan hidup yang menyesakkan, dan pilihan untuk menempuh “jalan sunyi.” Ia menyadari bahwa pelan-pelan seseorang bisa dilupakan atau disingkirkan, namun fajar tetap menyapa tanpa tergesa. Ada ajakan untuk berdoa lebih lama, menyimpan rindu, dan menyelesaikan tugas yang belum rampung.
Penutup puisinya menyiratkan transisi generasi: “Diminta atau tidak diminta, mereka harus menyiapkan diri untuk menerima tongkat estapeta.” Sebuah metafora kuat tentang regenerasi, tanggung jawab, dan kesinambungan perjuangan.
Karya Edy Sukardi kali ini bukan hanya puisi, tapi juga cermin batin masyarakat yang sedang mencari arah, kelegaan, dan keberanian untuk melangkah lebih bijak. Sebuah kontribusi sastra yang layak diapresiasi dalam lanskap budaya Indonesia kontemporer.














