Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Resensi : Puisi-Puisi Edy Sukardi #151 “Dari Pinggiran, Untuk yang Terlupakan”
Inshot 20250918 133303959

Resensi : Puisi-Puisi Edy Sukardi #151 “Dari Pinggiran, Untuk yang Terlupakan”

Dalam edisi ke-151 ini, Edy Sukardi kembali menegaskan posisinya sebagai penyair yang tak hanya bermain di ranah estetika, tetapi juga di medan makna dan kesadaran sosial.

Puisinya hadir sebagai ruang perenungan yang intens, di mana kata-kata menjadi alat untuk menyigi kenyataan, menggugat kelaziman, dan menyulam harapan dari serpihan luka.

Tema dan Suasana

Puisi-puisi dalam edisi ini bergerak antara lirih dan lantang. Ada nuansa elegi yang menyentuh, namun juga semangat perlawanan yang membara. Edy Sukardi menyoroti kegelisahan kolektif: tentang tanah yang kehilangan arah, manusia yang terasing dari nilai, dan sejarah yang terus berulang tanpa pembelajaran.

Ia menulis dengan kesadaran bahwa puisi bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk mengingatkan dan membangkitkan.

Gaya Bahasa dan Struktur

Gaya bahasa Edy Sukardi tetap khas: padat, metaforis, dan kadang-kadang sengaja dibiarkan retak untuk memberi ruang tafsir. Ia menggunakan enjambemen dan repetisi secara strategis, menciptakan ritme yang tidak hanya musikal tetapi juga emosional.

Struktur puisinya tidak selalu linear—ada lompatan-lompatan imajinatif yang menuntut pembaca untuk aktif menafsirkan.

Contoh baris yang menggugah:

“Di antara batu dan bayang, aku mencari nama yang tak disebut dalam doa.”

Baris ini menunjukkan bagaimana Sukardi menggabungkan citra konkret dan abstrak untuk menyuarakan keterasingan dan pencarian identitas.

Konteks Sosial dan Filosofis

Edy Sukardi tidak menulis dalam ruang hampa. Puisinya menyerap denyut zaman: dari konflik agraria, krisis identitas, hingga absurditas birokrasi.

Ia menyisipkan kritik sosial dengan elegan, tanpa kehilangan kedalaman filosofis. Ada pengaruh eksistensialisme, namun juga jejak spiritualitas lokal yang membumi.

Suara dan Perspektif

Yang menarik dari edisi ini adalah keberanian Sukardi untuk menulis dari sudut pandang yang tidak populer—suara-suara pinggiran, tokoh-tokoh yang terhapus dari narasi besar. Ia memberi ruang bagi yang tak terdengar, dan dalam proses itu, puisinya menjadi semacam arsip alternatif atas kenyataan.

Kesimpulan

Puisi-Puisi Edy Sukardi #151 adalah karya yang menuntut pembacaan yang sabar dan reflektif. Ia bukan penyair yang memberi jawaban, melainkan yang membuka pertanyaan.

Dalam edisi ini, ia mengajak kita untuk tidak hanya membaca, tetapi juga merasa, berpikir, dan bertindak. Sebuah kontribusi penting dalam lanskap sastra kontemporer Indonesia—puitis, politis, dan penuh empati

Snapins ai 3697335108920541513
Snapins ai 3697335108836762787

Artikel Terkait

Inshot 20251209 215348187

DPRD Belitung Kecewa BPN Tak…

intisari Berita Belitung, 9 Desember 2025…

Inshot 20251209 171100400

Panas! Jarwok Walkout RDP Polemik…

Intisari Berita BELITUNG — DPRD Kabupaten…

Inshot 20251209 164936134

Penanaman Pohon Energi Di Lahan…

Intisari Berita Dendang Belitung Timur (8/12/2025),-Kawasan…

Resensi : Puisi-Puisi Edy Sukardi #151 “Dari Pinggiran, Untuk yang Terlupakan” – Media Daulat Rakyat