Media Daulat Rakyat

Inshot 20250924 110902007

Titipan Tuhan dan Kesadaran yang Terlupakan

Inshot 20250924 110703202

Oleh: Akhlanudin

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin sibuk mengejar status, jabatan, dan kekayaan, puisi “Mengapa Aku” karya ESu (Edy Sukardi) hadir sebagai pengingat yang sunyi namun menggugah.

Ditulis pada 24 September 2025 di Pisangan Timur, puisi ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin batin yang mengajak kita bertanya ulang: apakah kita benar-benar memahami makna dari segala yang kita miliki

Puisi ini dibuka dengan pertanyaan retoris yang mengguncang: “Mengapa aku yang Engkau pilih, yang Engkau titipi?” Sebuah pertanyaan yang tidak hanya menyentuh ranah spiritual, tetapi juga menggugah kesadaran sosial.

Ketika seseorang diberi titipan berupa kekayaan, ilmu, jabatan, atau kehormatan, sering kali ia merasa itu adalah hasil jerih payahnya semata. Padahal, sebagaimana diingatkan dalam puisi ini, semua itu hanyalah titipan dari Tuhan.

ESu menyusun bait-baitnya dengan gaya bertutur yang reflektif dan penuh kontras. Ia menyandingkan “ibadah yang sebentar” dengan “doa yang panjang sekali”, menyentil fenomena umum di masyarakat: kita tergesa-gesa dalam menyembah, tetapi berlama-lama dalam meminta.

Dan yang diminta pun, seperti ditulis lugas oleh penyair, “hanya kemuliaan dunia”.

Puisi ini menyentuh akar dari budaya kepemilikan yang sering kali melupakan Tuhan sebagai sumber segala sesuatu.

Ketika titipan itu diambil kembali—entah berupa kehilangan harta, jabatan, atau kesehatan—manusia cenderung menyebutnya sebagai “musibah”, “ujian”, bahkan “murka”.

Padahal, seperti diingatkan dalam puisi, itu hanyalah proses pengembalian dari apa yang bukan milik kita.

Fenomena ini sangat relevan dalam konteks sosial-politik hari ini. Banyak pejabat, tokoh publik, bahkan masyarakat biasa yang terjebak dalam ilusi kepemilikan.

Mereka merasa berhak atas jabatan, atas pujian, atas fasilitas, dan lupa bahwa semua itu bisa hilang dalam sekejap. Ketika hilang, mereka meratap, bersedih berkepanjangan, bahkan menyalahkan takdir.

Salah satu bait paling menggugah dalam puisi ini adalah: “Tak kau perhatikan, semua sedang antri, menunggu giliran.” Sebuah metafora yang sederhana namun dalam. Kita semua sedang menunggu giliran—giliran diuji, giliran kehilangan, bahkan giliran dipanggil pulang.

Titipan yang kita pegang hari ini bisa jadi akan berpindah tangan esok hari. Maka, mengapa kita begitu sombong dalam menjaganya?

Dalam konteks adat dan budaya lokal, terutama di wilayah seperti Belitung atau Jawa Barat, konsep titipan ini sangat selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Banyak tradisi yang mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak. Bahwa tanah, sungai, dan hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Puisi ini bisa menjadi jembatan antara spiritualitas modern dan nilai-nilai adat yang mulai terlupakan.

Puisi ini ditutup dengan pengakuan yang jujur dan menyentuh: “Ya Rabb, Ampuni Aku.” Sebuah kalimat yang merangkum seluruh perjalanan batin dalam puisi ini.

Setelah menyadari bahwa semua hanyalah titipan, bahwa kita sering khilaf, bahwa kita lebih banyak meminta daripada menjaga, maka pengakuan dan permohonan ampun menjadi langkah yang paling manusiawi.

Sebagai jurnalis dan warga yang peduli pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas, saya melihat puisi ini bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai ajakan untuk introspeksi kolektif.

Di tengah dunia yang semakin materialistik, puisi seperti “Mengapa Aku” adalah oase yang mengingatkan kita untuk kembali pada esensi: bahwa hidup bukan soal memiliki, tetapi soal menjaga dan mengembalikan dengan ikhlas.

Artikel Terkait

Inshot 20251209 171100400

Panas! Jarwok Walkout RDP Polemik…

Intisari Berita BELITUNG — DPRD Kabupaten…

Inshot 20251209 164936134

Penanaman Pohon Energi Di Lahan…

Intisari Berita Dendang Belitung Timur (8/12/2025),-Kawasan…

Inshot 20251209 163925646

20 Orang Tewas dalam Kebakaran…

Intisari Berita Jakarta, Selasa (9/12/2025) –…

Titipan Tuhan dan Kesadaran yang Terlupakan – Media Daulat Rakyat