
oleh : Akhlsnudin
Dalam sunyi kaki Gunung Fuji, di antara kabut yang menggantung dan desir angin yang menggoda langkah, lahirlah sebuah puisi yang menggugah:
Selangkah Lagi. Bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi mendalam tentang perjuangan, keraguan, dan keberanian untuk bertahan di titik paling genting dalam hidup.
Perjalanan menuju puncak, baik secara harfiah maupun metaforis, jarang sekali mulus. Ia bisa lurus, bisa kelok, bisa menanjak, berliku, bahkan terjal. Dalam puisi ini, Edy Sukardi menggambarkan medan kehidupan sebagai lintasan yang menantang, penuh pilihan: terus maju atau balik pulang.
Setiap individu, dalam pencapaian apapun—karier, pendidikan, spiritualitas, atau perjuangan sosial—akan menghadapi fase ini. Di mana jalan terasa berat, dan godaan untuk menyerah begitu kuat. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
“Dari dalam diri / muncul keraguan / terasa lelah / ingin menyerah saja.”
Baris ini menyorot sisi paling manusiawi dari perjuangan: keraguan.
Bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena kelelahan mental dan emosional. Titik krusial ini adalah tempat banyak orang jatuh, menyerah, dan berkata “ah sudahlah…”
Namun, justru di titik inilah karakter dibentuk. Halang rintang bukan musuh, melainkan penyaring alami. Ia membedakan mana yang sungguh-sungguh dan mana yang setengah hati
Tatapan ke depan menjadi penentu. Ketika garis finish sudah terlihat, keputusan harus dibuat: menyerah dan pulang dengan tangan kosong, atau bertahan di garis kesabaran.
Dalam puisi ini, Sukardi menegaskan bahwa kemenangan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang energi baru yang lahir dari euforia keberhasilan.
Kemenangan bukan milik pribadi semata. Ia adalah persembahan untuk para suporter yang berteriak dari pinggir lapangan—mereka yang percaya, mendukung, dan menanti keberhasilan kita.
Puisi ini bukan hanya motivasi personal, tetapi juga memiliki resonansi sosial. Ia bisa dibaca sebagai refleksi perjuangan kolektif: para aktivis, jurnalis, guru, petani, atau siapa pun yang berjuang di medan kehidupan.
Dalam konteks Edy Sukardi yang dikenal sebagai penulis yang peka terhadap isu sosial dan spiritual, puisi ini menjadi seruan untuk tidak menyerah di tengah jalan.
Gunung Fuji bukan sekadar latar geografis. Ia adalah simbol ketekunan, keindahan yang dicapai melalui pendakian panjang. Menulis dari kaki gunung ini,
ESu seolah mengajak kita semua untuk menengok ke dalam diri, menakar ulang niat, dan melangkah lagi—selangkah lagi.
Puisi ini dapat dibaca lengkap di [Media Daulat Rakyat]












