
oleh : Akhlanudin
Dalam puisi berjudul “Dua Tangan”, Edy Sukardi mengajak pembaca untuk merenungi keajaiban tangan manusia—bukan sekadar alat fisik, melainkan simbol spiritual, sosial, dan eksistensial. Puisi ini dimuat pada 1 Oktober 2025 di Media Daulat Rakyat dan menjadi refleksi mendalam tentang tubuh sebagai ciptaan Tuhan yang penuh makna.
Tangan: Anugerah yang Terlupakan
Edy membuka puisinya dengan rasa takjub terhadap struktur tangan manusia: tulang, otot, syaraf, dan kulit yang bekerja harmonis.
Ia menyebut tangan sebagai “ciptaan luar biasa” yang sering kali luput dari rasa syukur. Tangan bukan hanya alat kerja, tapi juga alat ekspresi: menulis, memeluk, berdoa, menggenggam, dan menyentuh kehidupan.
“Tanganmu bisa menulis, memeluk, berdoa, menggenggam, dan lainnya…”
Tubuh sebagai Jalan Mengenal Tuhan
Puisi ini juga mengandung pesan spiritual yang kuat. Edy mengutip pepatah sufi: “Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”—barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Tangan, sebagai bagian dari tubuh, menjadi pintu masuk untuk memahami kehadiran Ilahi.
Sidik jari yang unik, gerak yang terkoordinasi, dan fungsi yang kompleks menjadi bukti kebesaran Sang Pencipta.
Kesaksian Tangan di Hari Pertanggungjawaban
Menjelang akhir, puisi ini berubah menjadi peringatan moral. Edy menulis bahwa tangan akan “bicara saat mulut terkunci” dan kaki menjadi saksi.
Ini merujuk pada konsep pertanggungjawaban spiritual, bahwa setiap anggota tubuh akan menjadi saksi atas perbuatan manusia.
“Tangan akan bicara saat mulut terkunci, kaki menjadi saksi…”
Refleksi dan Pesan
Puisi ini bukan sekadar pujian terhadap anatomi, melainkan ajakan untuk bersyukur, merenung, dan bertanggung jawab. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi,
Edy mengingatkan kita untuk kembali melihat diri—bahwa tubuh kita adalah mukjizat, dan setiap gerak adalah potensi kebaikan atau keburukan.












