
Puisi Edy Sukardi mengajak kita merenung: apakah pencapaian benar-benar menjawab jeritan batin, atau justru menyingkap hasrat yang tak kunjung selesai?
Puisi “Sssttt coba kau dengar ESu” karya Edy Sukardi yang dimuat di Media Daulat Rakyat (4 November 2025) adalah sebuah refleksi eksistensial yang menggugah. Ia tidak sekadar menyuarakan kegelisahan batin, tetapi juga menguliti paradoks antara pencapaian dan kebahagiaan. Dalam bait-baitnya, Edy Sukardi menyindir lembut namun tajam: “jeritan batin menyatakan dengan ratusan keinginan… ternyata itu bukan hasrat.”
Di sini, kita diajak menyadari bahwa keinginan yang kita kira sebagai kebutuhan, ternyata belum tentu membawa ketenangan.
Puisi ini relevan dengan kondisi masyarakat urban maupun pedesaan yang sering terjebak dalam siklus kerja, konsumsi, dan pencapaian. Bahkan setelah “mendaki, menurun, jalan mendatar,” jeritan itu tetap menggema. Ini bukan sekadar soal ambisi, tapi tentang kekosongan makna yang belum terisi.
Edy Sukardi menyentuh lapisan terdalam dari pencarian manusia: “apa yang kau cari?”—sebuah pertanyaan yang menggema di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Namun, puisi ini tidak hanya berkutat pada kegelisahan. Ia juga memberi kontras yang menyentuh: “orang-orang kecil bicara… ada sedikit rejeki… Ia sudah merasa bahagia.” Di sinilah letak kekuatan puisinya—menyoroti kebahagiaan yang sederhana, yang lahir dari kerja, peluh, dan cinta keluarga.
Edy Sukardi seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari pencapaian besar, melainkan dari penerimaan dan rasa cukup.
Sebagai rektor dan sastrawan, Edy Sukardi menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi medium refleksi sosial dan spiritual.
Puisinya bukan hanya karya estetika, tapi juga ajakan untuk mendengar bisikan hati, untuk berhenti sejenak dan bertanya: “masih ada yang kau cari?”—sebuah pertanyaan yang mungkin tak pernah selesai, tapi justru di sanalah letak keindahan hidup.
Identitas Karya
- Judul Puisi: Sssttt coba kau dengar ESu
- Penulis: Edy Sukardi
- Tanggal Publikasi: 4 November 2025
- Media: Medis Daulat Rakyat
- Jenis Karya: Puisi reflektif dan eksistensial
- Tema Sentral: Pencarian makna hidup, paradoks antara hasrat dan kebahagiaan, suara batin, dan kesederhanaan
- Gaya Bahasa: Liris, kontemplatif, dengan nada introspektif dan sosial
- Konteks Penulis: Edy Sukardi dikenal sebagai rektor dan sastrawan yang aktif menulis puisi-puisi bernuansa reflektif dan sosial, sering mengangkat suara orang kecil dan kegelisahan batin masyarakat modern.
Tema dan Makna
Puisi ini mengangkat tema pencarian makna hidup di tengah hiruk-pikuk pencapaian dan ambisi. Edy Sukardi menyuarakan kegelisahan batin yang tak kunjung reda meski telah melewati berbagai fase kehidupan. Kalimat seperti “jeritan batin menyatakan dengan ratusan keinginan… ternyata itu bukan hasrat” menjadi titik refleksi: apakah kita benar-benar tahu apa yang kita cari?
Gaya Bahasa
Gaya liris dan kontemplatif mendominasi puisi ini. Edy menggunakan repetisi dan pertanyaan retoris untuk menggugah pembaca, seperti “apa yang kau cari?” dan “masih ada yang kau cari?”. Nada puisinya tenang namun tajam, mengajak pembaca merenung tanpa menggurui.
Nilai Reflektif
Puisi ini menyentuh lapisan eksistensial yang dalam. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan bertanya pada diri sendiri: apakah kebahagiaan itu hasil dari pencapaian, atau justru dari penerimaan? Kontras antara “orang-orang kecil” yang bahagia dengan “jeritan batin” kaum pencari makna menjadi kritik sosial yang halus namun kuat.
Kontribusi Sastra
Sebagai rektor dan sastrawan, Edy Sukardi menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi medium refleksi spiritual dan sosial. Karya ini bukan hanya estetis, tetapi juga fungsional—mengajak pembaca untuk mendengar suara batin mereka sendiri.
Editor : Akhlanudin














