Intisari Berita
Pernyataan Sherly Tjoanda
- Politik sebagai jembatan
Politik dipandang sebagai jalan dari harapan masyarakat menuju dunia nyata, meski penuh keterbatasan. - Awal skeptis
Sherly awalnya menolak terjun ke politik karena dianggap dunia patriarkis. Ia menyebut dirinya “kanvas kosong” sebelum masuk ke dunia pemerintahan. - Tujuan jadi gubernur
Keputusan diambil untuk menyelesaikan masalah nyata, sekaligus menguji motivasi, integritas, kapasitas, dan ketahanan dirinya. - Kritik sebagai pagar
Kritik diterima sebagai pengingat dan kontrol agar tetap berada di jalur yang benar. - Transparansi angka
Sherly sengaja menyampaikan data dan angka ke publik sebagai bentuk kontrol sosial. Publik menjadi pengawas utama atas janji yang ia sampaikan. - Risiko era digital
Ia menyadari kesalahan kecil bisa diperbesar oleh algoritma media sosial, sehingga kepemimpinan tidak mudah dijalankan. - Penilaian rakyat
Keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin, menurut Sherly, hanya bisa dinilai oleh rakyat. Otoritas yang ia pegang hanyalah “pinjaman” selama lima tahun.
Jakarta, 23 November 2025 – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyampaikan refleksi mendalam mengenai perjalanan politiknya. Dalam sebuah pernyataan publik, ia menegaskan bahwa politik bukan sekadar arena kekuasaan, melainkan jembatan antara harapan masyarakat dan realitas yang penuh keterbatasan.
“Bagi saya politik itu jembatan antara harapan dan dunia nyata. Di dalamnya ada keterbatasan, bahwa pemimpin yang mereka kasih amanahnya itu, membawa mereka dari harapan ke dunia nyata dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Sherly.
Sherly mengaku awalnya menolak terjun ke dunia politik. Ia menyebut politik sebagai ruang yang patriarkis dan maskulin, sementara dirinya merasa sebagai “kanvas kosong” yang tidak memiliki pengalaman politik. Namun, keputusan menjadi gubernur ia ambil dengan tujuan menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.
“Apakah harapan itu dapat dipercaya, itu butuh diuji. Mulai dengan menguji motivasi, integritas, kapasitas, dan ketahanan saya,” katanya.
Kritik sebagai Pagar
Sherly menekankan pentingnya kritik dalam menjaga jalannya pemerintahan. Menurutnya, kritik bukan ancaman, melainkan pagar yang membuat seorang pemimpin lebih berhati-hati.
“Saya harus belajar menerima kritik. Kritik itu membuat saya lebih aware, lebih hati-hati. Kritik itu yang akan menjadi pagar untuk menjaga saya terus di jalan yang benar,” jelasnya.
Transparansi Angka sebagai Kontrol Publik
Dalam setiap pengumuman program, Sherly sengaja menyampaikan angka dan detail ke publik. Hal itu, menurutnya, menjadi bentuk kontrol sosial agar janji yang disampaikan benar-benar diwujudkan.
“Kalau saya sudah publish, saya pastikan saya deliver. Karena yang mengontrol saya itu banyak. Saya ada di ruang publik dengan spotlight,” tegasnya.
Sherly juga menyadari risiko besar dalam era digital, di mana kesalahan kecil bisa diperbesar oleh algoritma media sosial.
“Every little mistakes bisa diamplify for the sake of algoritma. I know that! It is not gonna be easy,” ujarnya.
Penilaian Akhir di Tangan Rakyat
Sherly menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan ditentukan oleh klaim pribadi, melainkan oleh penilaian rakyat.
“Saya berhasil atau tidak, rakyat yang akan menilai. Percuma saya bilang berhasil kalau saya gagal. Otoritas yang sedang saya pinjam ini adalah milik mereka, yang akan diambil kembali lima tahun ke depan,” pungkasnya.
Pernyataan lengkap Sherly Tjoanda dapat disimak melalui kanal resmi di YouTube.







