Intisari Berita
- Bupati Belitung dan CEO PT Wanxinda Group Indonesia (investor Tiongkok) menandatangani MoU pengembangan kawasan industri di Belitung pada China–Indonesia Industrial Cooperation Forum di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
- Kawasan seluas 500 hektar akan difokuskan pada pengolahan komoditas, energi terbarukan, manufaktur, dan logistik. MoU juga mencakup pengembangan SDM, pertukaran teknologi, dan studi kelayakan lingkungan.
- Tujuannya adalah membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan mengubah Belitung menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
- Kajian teknis akan dimulai triwulan pertama 2026, dengan target operasi sebagian pada 2028.
JAKARTA,— Komitmen Pemerintah Kabupaten Belitung dalam mempercepat kemajuan ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pada sektor pariwisata serta pertambangan konvensional kembali ditunjukkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Wanxinda Group Indonesia, perusahaan yang bergerak di sektor industri dan investasi global dengan jaringan di beberapa negara Asia dan Eropa.
Acara penandatanganan berlangsung dalam forum resmi bertajuk China–Indonesia Industrial Cooperation Forum yang dihadiri oleh ratusan delegasi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, investor domestik dan asing, serta tokoh ekonomi nasional di Grand Hyatt Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Forum ini mengusung tema Global Symbiosis, Collaborative Prosperity yang bertujuan mempromosikan kerja sama ekonomi lintas negara dalam era pasca-pandemi.
MoU ditandatangani secara resmi oleh CEO PT Wanxinda Group Indonesia, Mr. Chen Riling, bersama Bupati Belitung, H. Djoni Alamsyah Hidayat S.Sos., dengan disaksikan oleh Direktur Jenderal Penanaman Modal (BKPM) dan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia.
Kesepakatan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam mengembangkan kawasan industri strategis di Belitung yang akan difokuskan pada empat sektor utama: pengolahan komoditas lokal (seperti timah, pasir kuarsa, dan hasil perikanan), energi terbarukan (surya dan angin), manufaktur barang konsumen dan komponen industri, serta fasilitas logistik pendukung seperti gudang terpadu dan pintu pelabuhan yang diperkuat.
Dalam pidatonya, Bupati Belitung menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan peluang besar bagi daerahnya untuk membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, terutama bagi kaum muda, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal yang selama ini hanya diekspor mentah, serta memperkuat posisi Belitung sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.
“Penandatanganan MoU ini bukan hanya tentang investasi uang, tetapi tentang membangun masa depan Belitung sebagai daerah dengan struktur ekonomi yang berbasis industri berkelanjutan dan teknologi modern. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memastikan kolaborasi ini membawa manfaat maksimal bagi masyarakat, termasuk peningkatan kualitas layanan publik di sekitar kawasan industri dan perlindungan lingkungan,” ujar Bupati Djoni Alamsyah dengan tegas.
Selain fokus pada pembangunan fisik kawasan industri yang direncanakan seluas sekitar 500 hektar di daerah pantai yang strategis, MoU ini juga mencakup rangkaian rencana jangka panjang untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Antara lain adalah pelatihan tenaga kerja lokal oleh ahli teknologi dari Tiongkok, pertukaran mahasiswa dan peneliti antara institusi pendidikan di Belitung dan negara Tiongkok, studi kelayakan lingkungan yang mendalam sebelum pembangunan dimulai, serta integrasi strategi digitalisasi industri untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk lokal.
Sementara itu, CEO PT Wanxinda Group Indonesia, Mr. Chen Riling, menyampaikan apresiasi terhadap keterbukaan pemerintah daerah Belitung dan potensi wilayah tersebut sebagai titik koneksi penting antara Indonesia dengan pasar Asia Timur.
“Belitung memiliki posisi strategis yang dekat dengan Selat Malaka, akses logistik yang semakin berkembang dengan peningkatan fasilitas pelabuhan, serta sumber daya manusia yang potensial dan antusias untuk belajar. Kami optimistis kerja sama ini akan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan menjadi model industrialisasi baru di tingkat regional yang memadukan keuntungan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Kerja sama ini juga tidak terlepas dari peran aktif sejumlah pihak, termasuk tokoh penghubung hubungan investasi Tiongkok–Belitung yang telah bekerja selama setahun lebih untuk memfasilitasi pertemuan dan komunikasi antara investor dan pemerintah daerah.
Mereka juga membantu mempersiapkan data tentang potensi sumber daya alam dan kondisi sosial ekonomi di Belitung untuk mendukung proses perencanaan.
Pemerintah Kabupaten Belitung menargetkan serangkaian kajian teknis, penetapan lahan yang jelas, serta penyusunan Masterplan Industrial Zone akan mulai dilakukan pada triwulan pertama tahun 2026.
Selanjutnya, tahap pembangunan infrastruktur awal seperti jalan, listrik, dan air diharapkan dimulai pada akhir tahun 2026, dengan target kawasan industri mulai beroperasi sebagian pada tahun 2028.
Dengan adanya kesepakatan ini, Belitung diharapkan mampu melangkah menuju transformasi ekonomi yang lebih terstruktur, modern, dan berorientasi pada industri berkelanjutan, sehingga mengurangi ketergantungan pada sektor yang rentan terhadap fluktuasi pasar global.












