Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Bencana Tak Pernah Tiba-Tiba: Alarm Moral dari Puisi Edy Sukardi
Inshot 20251207 015803683

Bencana Tak Pernah Tiba-Tiba: Alarm Moral dari Puisi Edy Sukardi

Img 20251207 015505

Puisi Edy Sukardi menegaskan bahwa bencana bukanlah “tiba-tiba”, melainkan buah dari keserakahan manusia dan kelalaian kolektif. Ia mengingatkan bahwa alam sudah lama memberi tanda, tetapi manusia memilih abai hingga akhirnya panik ketika kerusakan tak terbendung.

Puisi “Tiba-tiba ESu” karya Edy Sukardi yang dimuat di Daulat Rakyat adalah sebuah refleksi keras tentang hubungan manusia dengan alam. Ada beberapa poin penting yang bisa ditarik sebagai opini:

Edy menolak pandangan bahwa bencana datang tiba-tiba. Ia menekankan bahwa sebelum peristiwa terjadi, alam sudah “berkabar” melalui tanda-tanda kerusakan. Pandangan ini menohok budaya masyarakat yang sering menyalahkan takdir, padahal akar masalahnya adalah perilaku manusia.

Puisi ini menyoroti penebangan pohon, rusaknya ekosistem, dan hilangnya fungsi hutan sebagai penyimpan air serta penyedia udara bersih. Kritiknya jelas: keserakahan manusia adalah penyebab utama. Dalam konteks Indonesia, ini relevan dengan deforestasi, tambang ilegal, dan pembangunan yang mengabaikan lingkungan.

Ada sindiran tajam terhadap pihak yang seharusnya bertanggung jawab namun justru “lepas tangan, saling menyalahkan, atau tampil seakan pahlawan demi pencitraan.” Ini adalah kritik sosial-politik: bencana sering dijadikan panggung politik, bukan momentum untuk memperbaiki kebijakan.

Puisi ditutup dengan doa dan permohonan ampun. Ini menunjukkan bahwa selain kritik sosial, Edy juga mengajak pembaca untuk merenung secara spiritual: apakah manusia masih mau belajar, bertadabbur, dan mengambil hikmah dari peringatan alam?

Puisi Edy Sukardi adalah alarm moral: ia menegur masyarakat yang bebal, pemimpin yang lalai, dan budaya pencitraan yang dangkal.

Hemat saya, karya ini layak dibaca bukan hanya sebagai sastra, tetapi sebagai manifesto ekologi dan kritik sosial. Ia mengingatkan bahwa bencana adalah konsekuensi dari pilihan manusia, dan hanya dengan kesadaran kolektif serta kepemimpinan yang jujur kita bisa menghindari “tiba-tiba” berikutnya.

Identitas Karya
  • Judul: Tiba-tiba ESu
  • Penulis: Edy Sukardi
  • Media Publikasi: Daulat Rakyat (5 Desember 2025)
  • Genre: Puisi reflektif-ekologis dengan nuansa kritik sosial
Analisis Kekuatan Karya
  • Tema ekologis yang relevan: Puisi ini mengangkat isu lingkungan yang sangat aktual di Indonesia, terutama soal deforestasi dan banjir.
  • Bahasa lugas namun puitis: Edy menggunakan diksi sederhana, tetapi sarat makna, sehingga pesannya mudah ditangkap pembaca awam.
  • Kritik sosial-politik: Ada keberanian dalam menyentil pihak berwenang yang sering menjadikan bencana sebagai panggung pencitraan.
  • Dimensi spiritual: Penutup puisi memberi keseimbangan antara kritik dan perenungan, sehingga tidak sekadar menyalahkan, tetapi juga mengajak introspeksi.

Puisi “Tiba-tiba ESu” karya Edy Sukardi yang dimuat di Daulat Rakyat bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia hadir sebagai alarm moral, menegur manusia yang abai terhadap tanda-tanda alam, sekaligus menyindir kepemimpinan yang lebih sibuk pencitraan ketimbang solusi.

Alam yang Berkabar manusia yang Abai

Edy Sukardi menolak pandangan bahwa bencana datang tiba-tiba. Dalam puisinya, ia menegaskan bahwa alam selalu memberi tanda sebelum kehancuran terjadi. Penebangan pohon, rusaknya ekosistem, dan hilangnya fungsi hutan sebagai penyimpan air adalah bukti nyata keserakahan manusia. Kritik ini relevan dengan kondisi Indonesia yang masih bergulat dengan deforestasi dan banjir.

Kritik Sosial dan Politik

Puisi ini tidak berhenti pada isu ekologis. Ada sindiran tajam terhadap pihak berwenang yang sering menjadikan bencana sebagai panggung politik. Edy menyinggung bagaimana pemimpin tampil seakan pahlawan, padahal solusi nyata tak kunjung hadir. Kritik ini memperlihatkan keberanian penyair dalam menyoroti kegagalan kepemimpinan.

Dimensi Spiritual

Menariknya, puisi ditutup dengan doa dan permohonan ampun. Di balik kritik keras, Edy menghadirkan ruang refleksi spiritual. Ia mengajak pembaca untuk bertadabbur, merenungi kesalahan, dan mengambil hikmah dari peringatan alam. Dimensi ini memberi keseimbangan: puisi tidak sekadar menyalahkan, tetapi juga mengajak introspeksi.

Kekuatan dan Kelemahan
  • Kekuatan: Tema ekologis yang relevan, bahasa lugas, keberanian kritik sosial, serta penutup spiritual yang menyentuh.
  • Kelemahan: Beberapa bagian terasa repetitif dan lebih deklaratif daripada metaforis, sehingga kehilangan lapisan estetika yang biasanya memperkaya puisi.

Puisi “Tiba-tiba ESu” adalah karya yang layak dibaca bukan hanya sebagai sastra, tetapi juga sebagai manifesto ekologi dan kritik sosial. Ia menegur masyarakat yang bebal, pemimpin yang lalai, dan budaya pencitraan yang dangkal. Dengan gaya lugas, Edy Sukardi berhasil menyampaikan pesan bahwa bencana adalah konsekuensi dari pilihan manusia, bukan sekadar takdir.

Fb img 1759155932500
Fb img 1759155988254

Artikel Terkait

InShot 20260211

Menkes Sentil Orang Kaya Penerima…

Intisari Berita JAKARTA – Menteri Kesehatan…

InShot 20260211

Data PBI JKN Ditentukan Daerah,…

Intisari Berita Menteri Sosial Saifullah Yusuf…

InShot 20260211

Diduga Tipu Warga Rp25 Juta,…

Intisari Berita Belitung – Jajaran Satreskrim…

Bencana Tak Pernah Tiba-Tiba: Alarm Moral dari Puisi Edy Sukardi – Media Daulat Rakyat