Intisari Berita
- emerintah Kabupaten Belitung merealisasikan PAD hingga Rp205 miliar per 15 Desember 2025, melampaui target Rp202 miliar.
- Djoni Alamsyah menyebut ini rekor terbesar sepanjang Belitung berdiri dan menjadi yang ketiga terbesar di Babel setelah Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka. Target awalnya Rp154,8 miliar lalu dinaikkan.
- Capaian ini diraih berkat kerja sama bersama, meskipun beberapa sektor seperti BPHTB tidak tercapai karena program rumah subsidi.
- PAD dianggap sebagai tulang punggung fiskal daerah, dan pemda diminta lebih mandiri serta hemat dengan memprioritaskan belanja yang berdampak pada ekonomi.
Tanjung pandan Belitung 16 Desember 2025-Pemerintah Kabupaten Belitung menunjukkan komitmen dalam mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hingga tanggal 15 Desember 2025, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) berhasil merealisasikan PAD sebesar Rp205 miliar, melampaui target yang telah dinaikkan menjadi Rp202 miliar.
“Dengan capaian ini, PAD Kabupaten Belitung mencatatkan rekor terbesar sepanjang daerah ini berdiri, sekaligus menempati posisi ketiga tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setelah Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka,” ujar Djoni Alamsyah pada Selasa (16/12/2025).
Pada awalnya, target PAD yang disampaikan dalam rapat paripurna Juni 2025 lalu sebesar Rp154,8 miliar. Setelah melalui proses pertimbangan dan evaluasi yang cermat, target tersebut kemudian dinaikkan menjadi Rp202 miliar.
“Kita capai angka Rp205 miliar berkat kerja sama yang solid, kerja keras bersama seluruh pihak. Ini merupakan prestasi yang patut diapresiasi,” tambahnya.
Djoni mengakui bahwa kondisi keuangan negara saat ini mengharuskan pemerintah daerah untuk lebih mandiri, mengingat alokasi dana dari APBN terus dikurangi. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh OPD terkait untuk terus berinovasi dan meningkatkan pendapatan daerah.
“Meskipun beberapa sektor seperti Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) tidak dapat mencapai target karena adanya program pembangunan 3.000 rumah subsidi, kita tidak boleh berhenti berinovasi,” jelasnya.
Menurutnya, PAD merupakan tulang punggung fiskal daerah, seperti darah bagi tubuh manusia. “Jika darah berkurang atau ada kebocoran, maka tubuh akan lemah bahkan mengalami masalah fatal. Kini, kita telah berhasil menutup segala kemungkinan kebocoran pendapatan, sehingga pengelolaan belanja dapat dilakukan dengan lebih terarah,” pungkas Djoni.
Pemerintah daerah juga tetap berkomitmen untuk mengelola anggaran secara hemat dan memprioritaskan belanja pada sektor-sektor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.












