MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, 26 September 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab kabut asap yang semakin pekat menyelimuti Pulau Belitung pada Jumat (26/9/2026). Berdasarkan analisis satelit, asap yang ada saat ini merupakan gabungan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal dan asap kiriman dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Prakirawan BMKG Belitung, Citra Aulia Nisa, mengatakan, berdasarkan citra Satelit Himawari-9 Geohospot, terpantau sebaran asap yang cukup pekat di wilayah Pulau Belitung.
“Berdasarkan analisis Citra Satelit Himawari-9 Geohospot, terpantau sebaran asap yang cukup pekat di wilayah Pulau Belitung,” ujar Citra.
Ia menambahkan, pada pukul 11.00 WIB, Jumat (26/9), terdeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Belitung Timur. Kondisi arah angin yang bertiup dari Timur-Tenggara menuju Barat Laut-Utara turut mendukung pergerakan asap dari Kalimantan ke Belitung.
“Kondisi ini menyebabkan sebaran asap terpantau hingga wilayah Belitung dan berpotensi mengurangi kualitas udara serta jarak pandang,” tambahnya.
Jika dibandingkan dengan awal September 2026, kondisi saat ini jauh lebih serius. Pada awal bulan, asap masih tipis dan terlihat dari kejauhan dengan 36 titik panas di Belitung yang bersumber dari karhutla lokal. Namun pada 26 September 2026, asap sudah pekat menyelimuti kota, dengan sumber gabungan lokal dan kiriman dari Kalimantan.
BMKG mengingatkan dampak utama dari kondisi ini adalah penurunan kualitas udara dan jarak pandang yang dapat mengganggu kesehatan dan transportasi.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker bila beraktivitas di luar rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta terus memantau informasi resmi BMKG terkait perkembangan cuaca dan kualitas udara.












