Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Kisah Sejarah: DN Aidit, Putera Tanjung Batu Itam, Belitung Timur yang Menembus Panggung Politik Nasional
IMG 20260930 WA8328

Kisah Sejarah: DN Aidit, Putera Tanjung Batu Itam, Belitung Timur yang Menembus Panggung Politik Nasional

BELITUNG TIMUR, 30 September 2026 – Di balik nama besar yang pernah menggetarkan panggung politik Indonesia, ada sebuah kampung nelayan kecil di pesisir Belitung Timur bernama Tanjung Batu Itam. Dari sanalah Dipa Nusantara Aidit, atau yang lebih dikenal DN Aidit, lahir pada 30 Juli 1923.

Lahir dari lingkungan Melayu Belitung yang sederhana, Aidit tumbuh bukan sebagai anak priyayi. Ayahnya, Abdullah Aidit, adalah seorang mantri hutan. Namun sejak kecil, Aidit sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata, rajin membaca, dan memiliki minat besar pada isu-isu kebangsaan.

Masa kecilnya dihabiskan di Belitung sebelum akhirnya merantau untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dari Belitung, ia melanjutkan ke Batavia (Jakarta) dan berinteraksi dengan berbagai pergerakan pemuda pada era penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Naik ke Puncak PKI

Awal 1940-an menjadi titik balik perjalanan politik Aidit. Ia aktif dalam pergerakan pemuda dan kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kepiawaiannya dalam menulis, berpidato, dan membangun jaringan membuatnya melesat cepat.

Pada tahun 1951, di usia yang masih sangat muda, 28 tahun, Aidit terpilih menjadi Ketua Comite Central (CC) PKI. Di bawah kepemimpinannya, PKI yang sempat hancur pasca pemberontakan Madiun 1948, bangkit kembali menjadi salah satu dari empat kekuatan politik terbesar di Indonesia bersama PNI, Masyumi, dan NU.

Pada Pemilu 1955, PKI yang dipimpin Aidit berhasil meraih 16,4% suara dan menjadi partai dengan perolehan suara terbesar keempat secara nasional.

Aidit dikenal sebagai orator ulung yang mampu memikat massa buruh dan tani. Ia juga penulis produktif dengan buku-buku seperti “Menempuh Djalan Rakjat” dan teori tentang Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Era Demokrasi Terpimpin dan Nasakom

Di era Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno (1959-1965), posisi Aidit semakin kuat. Ia menjadi salah satu tokoh yang paling dekat dengan Sukarno dan menjadi pendukung utama gagasan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) yang digagas Bung Karno untuk menyatukan kekuatan politik di Indonesia.

Di bawah Aidit, PKI mengklaim memiliki lebih dari 3 juta anggota resmi dan 20 juta simpatisan melalui organisasi-organisasi sayap seperti SOBSI (buruh), BTI (tani), Pemuda Rakyat, dan Gerwani.

Tragedi 1965

Nama Aidit kemudian menjadi sorotan utama setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Aidit dituduh sebagai dalang di balik penculikan dan pembunuhan 6 jenderal dan 1 perwira Angkatan Darat.

Hingga kini, peran dan sejauh mana keterlibatan Aidit dalam G30S masih menjadi perdebatan panjang di kalangan sejarawan. Versi resmi pemerintah Orde Baru menyatakan PKI di bawah Aidit adalah pelaku utama. Sementara beberapa penelitian sejarah baru melihat adanya kompleksitas intrik politik, keterlibatan unsur militer, dan dinamika Perang Dingin.

Setelah peristiwa G30S, Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah. Ia akhirnya ditangkap oleh militer di Boyolali pada 22 November 1965 dan dieksekusi tidak lama setelah itu. Lokasi makamnya hingga kini tidak diketahui secara pasti.

Warisan Seorang Anak Kampung Pesisir

Terlepas dari kontroversi dan tragedi yang mengakhiri hidupnya, DN Aidit tetap menjadi bagian penting dari sejarah Belitung Timur. Ia adalah bukti bahwa seorang anak dari kampung nelayan kecil di ujung Pulau Belitung mampu menembus panggung politik nasional, bahkan internasional.

Kisahnya adalah potret perjalanan anak daerah yang penuh ambisi, kecerdasan, dan keberanian, sekaligus menjadi pengingat akan betapa kerasnya pergolakan politik Indonesia di era 1960-an yang berakhir dengan tragedi kemanusiaan besar.

Di Tanjung Batu Itam sendiri, nama Aidit masih dikenang dengan beragam cara. Bagi sebagian orang, ia adalah kebanggaan sebagai putera daerah. Bagi sebagian lain, ia adalah pelajaran sejarah tentang bahaya pertarungan ideologi yang tak berkesudahan.

Artikel Terkait

InShot 20261006

Fakta Sistem Pendidikan Singapura yang…

JAKARTA, MEDIA DAULAT RAKYAT – Polemik…

InShot 20261006

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan…

JAKARTA, MEDIA DAULAT RAKYAT – Mahkamah…

InShot 20261006

Cepat Tanggap! Polsek Sijuk, Damkar,…

MEDIA DAULAT RAKYAT SIJUK, BELITUNG –…