JAKARTA – Di balik nama besar Dipa Nusantara Aidit, ada sosok perempuan tangguh yang nasibnya ikut tenggelam dalam pusaran sejarah 1965. Ia adalah dr. Soetanti Aidit, istri DN Aidit, yang hidupnya berubah drastis dari seorang dokter bangsawan berpendidikan tinggi menjadi tahanan politik selama 14 tahun.
Kisah Soetanti adalah potret bagaimana keluarga tokoh politik pada masa itu ikut menanggung beban sejarah yang sangat berat, bahkan ketika mereka tidak terlibat langsung dalam peristiwa politik.
Sosok Soetanti: Bangsawan, Dokter, dan Pelopor Akupuntur
Nama lengkapnya adalah dr. Soetanti. Ia lahir pada 1 November 1923 dari keluarga bangsawan Jawa-Minang. Latar belakang keluarganya terpandang dan berpendidikan.
Soetanti menempuh pendidikan kedokteran, sebuah pencapaian yang sangat langka bagi perempuan Indonesia pada era 1940-an. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor, bahkan disebut sebagai ahli akupuntur pertama di Indonesia. Di masa itu, akupuntur masih merupakan ilmu pengobatan yang sangat baru dan belum banyak dipraktikkan di tanah air.
Pada tahun 1948, Soetanti menikah dengan Dipa Nusantara Aidit, yang saat itu masih menjadi pemuda aktivis yang mulai menanjak karier politiknya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak: Ibarruri Putri Alam, Ilham Aidit, Irfan Aidit, Iwan Aidit, dan Ibarruri Putri kedua yang bernama Ilya.
Selama periode 1948 hingga 1965, kehidupan Soetanti terbilang mapan. Sebagai istri Ketua CC PKI yang pada masa Demokrasi Terpimpin menjadi partai besar dan dekat dengan kekuasaan Presiden Soekarno, ia tetap aktif dalam profesinya sebagai dokter. Keluarga mereka tinggal di Jakarta dengan fasilitas yang cukup.
Namun semua itu berakhir dalam satu malam.
Malam 30 September 1965: Titik Balik
Pada malam 30 September 1965, DN Aidit dijemput oleh orang-orang yang datang ke rumahnya. Menurut kesaksian keluarga, itu adalah kali terakhir Soetanti melihat suaminya. Sejak saat itu, keberadaan Aidit tidak jelas.
Seperti banyak istri lainnya pada masa kekacauan tersebut, Soetanti diliputi kecemasan. Ia tidak tahu apakah suaminya masih hidup, ditahan, atau telah meninggal. Dengan naluri seorang istri, ia memutuskan untuk mencari.
Pencarian itu dilakukannya dengan cara menyamar. Bersama seorang kenalan yang merupakan Bupati Boyolali saat itu, Soetanti melakukan perjalanan hingga ke daerah Boyolali, Jawa Tengah, dengan harapan mendapatkan informasi tentang keberadaan suaminya yang dikabarkan berada di Jawa Tengah.
Penyamaran itu tidak bertahan lama. Di tengah situasi operasi militer besar-besaran untuk memburu tokoh-tokoh PKI, identitas Soetanti sebagai istri DN Aidit sangat mudah dikenali. Ia akhirnya ditangkap.
Penangkapan itu menjadi awal dari penderitaan panjang selama belasan tahun.
14 Tahun di Balik Jeruji: Kodim 66 hingga Bukit Duri
Soetanti ditahan tanpa proses peradilan yang jelas pada masa awal. Ia resmi menjadi tahanan politik.
Total masa tahanannya mencapai 14 tahun, dari tahun 1966 hingga 1980. Ia dipindahkan dari satu tempat penahanan ke tempat lain. Beberapa lokasi yang pernah menjadi tempat penahanannya antara lain Kodim 66, Penjara Bukit Duri di Jakarta, dan beberapa lokasi penahanan lain untuk tahanan politik perempuan.
Sebagai istri dari Ketua PKI, stigma yang melekat pada dirinya berlipat ganda. Ia tidak hanya dianggap sebagai tahanan politik, tetapi juga mendapat diskriminasi sosial dan politik yang sangat berat. Hak-haknya sebagai warga negara dicabut, profesinya sebagai dokter tidak bisa dijalankan, dan ia terpisah dari kelima anaknya yang saat itu masih kecil-kecil dan harus diasuh oleh kerabat dan akhirnya tercerai-berai ke luar negeri.
Empat belas tahun adalah waktu yang sangat lama. Di dalam penjara, kondisi kesehatan Soetanti menurun drastis. Ia mengalami sakit-sakitan dan tubuhnya menjadi rapuh.
Kehidupan Setelah Bebas: Kembali Menjadi Dokter Akupuntur
Pada tahun 1980, setelah 14 tahun mendekam di penjara, dr. Soetanti akhirnya dibebaskan.
Kebebasan itu tidak serta-merta mengembalikan kehidupan lamanya. Stigma sebagai eks-tahanan politik dan istri DN Aidit masih melekat kuat di masa Orde Baru. Ia sulit mendapatkan pekerjaan formal.
Dengan sisa keahlian yang dimilikinya, Soetanti mencoba bangkit. Ia kembali membuka praktik sebagai dokter akupuntur secara sederhana. Dari praktik kecil-kecilan itulah ia menyambung hidup. Pasien-pasien lamanya yang masih percaya padanya datang berobat.
Namun, kondisi fisiknya yang sudah terlanjur rapuh akibat bertahun-tahun di penjara membuatnya tidak bisa praktik lama. Ia sering sakit-sakitan. Trauma dan beban mental selama penahanan juga membekas.
Pada tahun 1991, dr. Soetanti Aidit wafat dalam kesunyian. Ia meninggal tanpa pernah mendapatkan pemulihan nama baik secara resmi dari negara, dan tanpa pernah mengetahui secara pasti di mana makam suaminya berada hingga akhir hayatnya.
Catatan Penting Sejarah
Kisah dr. Soetanti Aidit sering luput dari buku-buku sejarah utama yang lebih banyak menyoroti tokoh laki-laki dan peristiwa politiknya. Padahal, kisahnya merepresentasikan ribuan perempuan lain pada masa itu.
Ia adalah potret perempuan berpendidikan tinggi, dari kalangan bangsawan, seorang dokter pelopor, yang dalam sekejap terjebak dalam pusaran politik besar yang jauh melampaui kendalinya. Dari hidup mapan menjadi tahanan, dari seorang dokter dihormati menjadi warga dengan stigma berat.
Warisan medisnya sebagai salah satu pelopor akupuntur di Indonesia tetap dikenang oleh kalangan medis yang mengenalnya. Namun warisan kemanusiaannya jauh lebih besar: ia menunjukkan ketabahan seorang ibu dan istri yang tetap mencoba mencari suaminya di tengah bahaya, dan tetap bertahan hidup selama 14 tahun di penjara, serta mencoba membangun kembali hidup dari nol setelah bebas.
Kisah Soetanti, bersama dengan kisah anak-anaknya yang harus hidup dalam eksil di berbagai negara, menjadi pengingat bahwa setiap peristiwa politik besar selalu memiliki dampak kemanusiaan yang panjang dan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.












