Media Daulat Rakyat Nanggar, Belitung Timur – Sabtu, 3 Oktober 2026
Sejarah baru pendidikan tinggi di Pulau Belitung resmi ditorehkan hari ini. Bertempat di Auditorium Zahari Mz, Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Dr. Isyak Meirobie, Asisten Penasihat Presiden Bidang Komunikasi, secara resmi menyatakan kesiapan dan kesediaannya untuk memimpin Institut Darma Ganesha Nusantara (Dargantara) sebagai rektor pertama.
Pernyataan ini bukan sekadar pengumuman jabatan, melainkan sebuah deklarasi visi besar untuk memutus rantai kesulitan akses pendidikan tinggi yang selama puluhan tahun membelit anak-anak muda Belitung. Di hadapan ratusan tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan jajaran pemerintah daerah, Isyak tampil dengan sebuah misi yang sangat personal.
Dari Pengalaman Pribadi Menjadi Visi Institusi
Dalam pidato peluncurannya yang penuh emosi, Isyak tidak memulai dengan data dan statistik, melainkan dengan kisah pribadinya. Ia mengenang masa mudanya sebagai anak pulau yang harus merantau jauh untuk bisa mengenyam bangku kuliah.
“Dulu saya kuliah terpaksa ke luar, dan orang tua dengan susah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah agar saya bisa kuliah di luar Pulau Belitung. Karena kalau enggak ada uang, enggak mungkin kita bisa kuliah ke luar pulau,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kisah itu adalah kisah kolektif hampir seluruh keluarga di Belitung dan Belitung Timur. Biaya kuliah bukanlah satu-satunya beban. Biaya hidup di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Palembang, ditambah biaya transportasi, kos, dan kebutuhan sehari-hari, menjadi tembok tebal yang memisahkan antara mimpi dan kenyataan. Banyak anak muda yang secara akademik sangat cemerlang, dengan nilai ujian yang tinggi dan semangat belajar yang membara, terpaksa harus mengubur dalam-dalam impian mereka untuk menyandang gelar sarjana.
“Kalau enggak punya uang, bagaimana? Mereka bertahan tidak kuliah. Akhirnya, kita enggak akan pernah bisa meningkatkan IPM daerah kita,” tegas Isyak. Pernyataan ini menyentuh akar persoalan paling mendasar: rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah kepulauan yang sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan, melainkan oleh kurangnya akses.
Isyak menegaskan bahwa Dargantara hadir untuk menjawab persoalan itu. Ia menekankan pentingnya menghadirkan tenaga pengajar berkualitas global dengan biaya terjangkau agar anak muda Belitung tak perlu lagi minder berkuliah di tanah sendiri. Minder karena merasa kampus di daerah kalah kualitas, minder karena harus berjuang ekstra keras hanya untuk bisa berangkat, dan minder karena merasa masa depannya terbatas oleh geografis.
Visi Besar Institut Dargantara: Global Quality, Local Heart
Visi yang diusung Isyak untuk Dargantara dirangkum dalam tiga pilar utama yang saling menguatkan.
Pertama, Tenaga Pengajar Global. Ini adalah janji paling ambisius. Dargantara tidak ingin menjadi kampus yang biasa-biasa saja. Isyak berkomitmen untuk menghadirkan dosen-dosen berkualitas internasional, para praktisi industri, akademisi dengan jejaring global, dan pakar-pakar di bidangnya, namun dengan skema biaya kuliah yang tetap terjangkau bagi masyarakat Belitung. Modelnya adalah hybrid learning, kolaborasi dengan universitas luar negeri, dan program visiting professor yang akan membuat mahasiswa di Manggar bisa mendapatkan wawasan yang sama dengan mahasiswa di Jakarta atau bahkan di luar negeri. Kualitas global, harga lokal.
Kedua, Akses Pendidikan Lokal. Dargantara secara sadar diposisikan sebagai solusi agar pemuda Belitung bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa harus keluar daerah. Dengan adanya kampus berkualitas di tanah sendiri, uang yang selama ini mengalir keluar daerah untuk biaya kos dan hidup di perantauan bisa tetap berputar di ekonomi lokal. Lebih penting lagi, ikatan keluarga dan budaya tetap terjaga. Mahasiswa tidak perlu mengalami culture shock yang berat dan bisa langsung mengaplikasikan ilmunya untuk membangun desanya. Ini adalah konsep kampus yang memberdayakan, bukan yang mencabut akar.
Ketiga, Peningkatan SDM dan IPM. Fokus akhir dari semua ini adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dan ketersediaan sumber daya manusia berkualitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Belitung Timur tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertambangan dan pariwisata. Ke depan, ekonomi kreatif, ekonomi digital, manajemen modern, dan kepastian hukum untuk investasi membutuhkan SDM yang unggul. Dargantara disiapkan untuk mencetak para manajer, pendidik, dan ahli hukum yang akan menjadi motor penggerak baru bagi Belitung.
Peluncuran Kampus dan Program Studi
Acara peluncuran hari ini menandai dimulainya babak baru. Detail penting terkait institusi ini juga diumumkan secara resmi.
Lokasi peluncuran yang dipilih sangat simbolis, yaitu Auditorium Zahari Mz, sebuah pusat kebudayaan dan intelektual di Desa Padang, Kecamatan Manggar. Tanggal peluncuran ditetapkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Sementara itu, pelantikan rektor secara resmi dijadwalkan akan dilaksanakan pada 17 Oktober 2026, yang akan menjadi tonggak formal dimulainya kepemimpinan Dr. Isyak Meirobie.
Untuk tahap awal, Institut Dargantara akan membuka empat program studi S1 yang sangat relevan dengan kebutuhan daerah: di bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Hukum. Pemilihan prodi ini tidak acak. Ekonomi untuk mencetak wirausahawan dan manajer yang mengelola potensi timah, lada, dan pariwisata secara modern. Pendidikan untuk mengatasi kekurangan guru berkualitas di pulau-pulau. Hukum untuk memberikan kepastian hukum dan melahirkan advokat-advokat yang membela masyarakat lokal.
Tidak berhenti di S1, Dargantara juga telah menargetkan pembukaan program S2 Magister Manajemen dan Magister Hukum pada tahun 2027. Ini menunjukkan ambisi jangka panjang untuk menjadi pusat studi lanjutan di kawasan timur Sumatera.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah
Visi besar ini mendapatkan sambutan dan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah. Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyebut kehadiran Dargantara sebagai investasi Sumber Daya Manusia (SDM) paling penting dalam sejarah kabupaten.
“Kalau SDM-nya baik, bukan tidak mungkin masa depan Belitung Timur luar biasa. Kita punya Pak Yusril Ihza Mahendra, kita punya Pak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dari Belitung ini bisa lahir tokoh nasional baru,” katanya dengan optimisme tinggi.
Bupati Kamarudin melihat bahwa Belitung telah terbukti melahirkan tokoh-tokoh nasional yang berpengaruh di tingkat pusat. Dengan adanya infrastruktur pendidikan tinggi yang memadai, ia yakin akan lahir lebih banyak lagi Yusril-Yusril dan Ahok-Ahok baru dari generasi muda Dargantara yang akan membawa nama Belitung harum di kancah nasional dan internasional.
Kesimpulan: Sebuah Janji untuk Pulang dan Membangun
Pada akhirnya, kisah Dr. Isyak Meirobie dan Institut Dargantara adalah kisah tentang pulang. Pulang untuk membangun. Jika dulu ia harus pergi karena keterbatasan, kini ia kembali untuk memastikan generasi setelahnya tidak perlu merasakan kesulitan yang sama.
Dengan pengalaman pribadinya sebagai anak pulau, jabatannya di lingkaran kepresidenan, dan visi besar untuk pendidikan yang berkualitas global namun terjangkau, Dargantara di bawah kepemimpinan Isyak diharapkan mampu mencetak generasi baru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berdaya saing nasional, berakar kuat pada budaya Belitung, dan siap menjadi patriot bagi Negeri Laskar Pelangi.












