MEDIA DAULAT RAKYAT MANGGAR – Di balik usia 155 tahun yang diperingati hari ini, tersimpan kisah etimologi yang unik tentang nama Manggar. Berdasarkan penelusuran historis dan tutur masyarakat Melayu Belitong, nama Manggar diyakini berasal dari dua kata kunci: Sungai Manggar dan pohon mangga.
Dalam dialek Melayu Belitong, kawasan pesisir timur ini memang ditumbuhi banyak pohon mangga di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke laut. Masyarakat awal menyebut kawasan itu sebagai daerah yang banyak mangga, hingga akhirnya melekat menjadi nama permukiman: Manggar.
Jejak Tambang Timah Abad ke-19
Nama Manggar mulai tercatat resmi dalam peta kolonial pada abad ke-19, seiring dibukanya pertambangan timah di Belitung Timur oleh pemerintah Hindia Belanda. Saat itu, Sungai Manggar menjadi jalur vital pengangkutan bijih timah dari pedalaman ke pelabuhan.
Di tepi sungai dan pesisir itulah, kompleks permukiman pejabat, pekerja tambang, dan pedagang mulai tumbuh. Gudang-gudang timah, kantor administrasi, dan deretan warung kopi pertama berdiri. Manggar bukan hanya tempat menambang, tapi menjadi pusat logistik dan ekonomi timah Belitong bagian timur.
Sejarah ini yang membentuk karakter Manggar sebagai kota yang terbuka dan multietnis. Orang Melayu, Tionghoa, Bugis, Jawa, hingga pekerja dari berbagai daerah datang karena timah.
Dari Kota Timah Menuju Pusat Pemerintahan
Pasca kejayaan timah meredup, Manggar tidak ikut tenggelam. Pada 2003, saat Kabupaten Belitung Timur dimekarkan dari Kabupaten Belitung, Manggar ditetapkan sebagai Ibu Kota Kabupaten.
Sejak itu, transformasi besar terjadi:
- Pusat Pemerintahan: Gedung DPRD, Kantor Bupati, dan seluruh OPD terpusat di Manggar.
- Pusat Ekonomi: Warung kopi legendaris yang jumlahnya lebih dari 100-an menjadi ikon ekonomi kerakyatan. Dari warung kopi inilah politik, bisnis, dan informasi warga mengalir. Manggar pun dijuluki Kota 1001 Warung Kopi.
- Pusat Budaya: Perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa melahirkan tradisi unik seperti Maras Taun, Festival Budaya, dan tradisi ngupi bersama yang masih hidup hingga hari ini.
Walikota tidak ada, yang ada Bupati Beltim, tapi bagi masyarakat Beltim, Manggar tetaplah kota induk, kota yang membesarkan mereka.
Refleksi 155 Tahun
Pada usia ke-155 tahun ini, Jumat (9/10/2026), Manggar berdiri bukan lagi sebagai kota tambang. Ia adalah kota yang berhasil mengubah identitas dari kota timah menjadi kota jasa, pariwisata, dan budaya.
Seperti tema HUT tahun ini, “Manggar Bejaye, Beltim Maju Besame”, kejayaan Manggar bukan kejayaan masa lalu semata, tapi kejayaan yang ingin dibangun kembali secara bersama-sama.
“Kalau kite nak tau Beltim, datanglah ke Manggar. Minum kopi dulu di warung, baru kite tau cerite Beltim,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Manggar, Pak Haji Usman (72), yang ditemui di Warung Kopi Ake.












