Intisari Berita
- BPBD Belitung mengimbau masyarakat agar waspada saat beraktivitas di kolong dan rawa menyusul insiden penambang diterkam buaya di Dusun Mempiu. Kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di Desa Dukong, menimpa seorang anak kecil yang berhasil diselamatkan. Sepanjang 2025, BPBD beberapa kali mengamankan buaya yang masuk ke pemukiman, termasuk saat banjir di Desa Cerucuk.
- Dalam penanganan kasus terbaru, BPBD berkoordinasi dengan berbagai instansi dan tim gabungan. Agus Supriadi menegaskan populasi buaya muara di Belitung cukup berlebih karena tingkat perkembangbiakan yang tinggi, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
BELITUNG – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belitung, Agus Supriadi, mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kolong dan rawa. Imbauan ini disampaikan menyusul insiden terbaru seorang penambang diterkam buaya di Dusun Mempiu, Selasa (10/2/2026).
Agus menegaskan, kejadian tersebut bukanlah yang pertama. Sebelumnya, BPBD juga mencatat kasus serupa di beberapa desa. Salah satunya di Desa Dukong, di mana seorang anak kecil menjadi korban serangan buaya. Beruntung, anak tersebut berhasil diselamatkan meski sempat diterkam.
“Kejadian serupa pernah terjadi baru-baru ini di Desa Dukong. Seorang anak kecil diterkam buaya, tapi syukurnya masih hidup sampai sekarang,” ujar Agus.
Kasus Buaya Masuk Pemukiman
Selain serangan terhadap warga, BPBD juga beberapa kali harus mengamankan buaya yang masuk ke pemukiman. Pada 2025, sejumlah kasus terjadi ketika predator itu masuk ke sumber air belakang rumah warga. Salah satunya di Desa Cerucuk, saat banjir membuat buaya masuk ke selokan. BPBD kemudian mengarahkan buaya kembali ke habitatnya.
“Salah satunya di Desa Cerucuk, kondisi banjir membuat buaya masuk ke selokan. Kami lakukan pengamanan dan mengarahkan buaya ke habitatnya,” jelas Agus.
Penanganan Kasus di Dusun Mempiu
Untuk insiden di Dusun Mempiu, BPBD berkoordinasi dengan berbagai instansi, antara lain Dinas Sosial, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Satbrimob, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Basarnas, serta tim gabungan lainnya. Mereka bahu-membahu melakukan evakuasi dan penanganan di lapangan.
“Kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Tagana, Satbrimob, dan kawan-kawan di lapangan yang ikut terlibat,” kata Agus.
Populasi Buaya Muara Berlebih
Agus menambahkan, meski buaya muara termasuk satwa dilindungi, populasinya di Belitung cukup berlebih. Hal ini disebabkan tingkat perkembangbiakan yang tinggi.
“Berdasarkan literatur, buaya bisa hidup sampai 80 tahun. Sementara kemampuan bertelurnya cepat, sehingga angka perkembangbiakan mereka cukup tinggi,” ujarnya.












