Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Jeritan Pengusaha Kuliner: Harga Plastik dan LPG Naik, Margin Usaha Tercekik
InShot 20260422

Jeritan Pengusaha Kuliner: Harga Plastik dan LPG Naik, Margin Usaha Tercekik

Intisari Berita

  • Harga LPG nonsubsidi dan plastik naik hampir bersamaan. 
  • Pengusaha kuliner tertekan, margin keuntungan makin tipis. 
  • Plastik bisa diganti sebagian, tapi LPG tidak ada alternatif. 
  • Konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga plastik hingga 100%. 
  • Pelaku usaha berharap dilibatkan dalam kebijakan dan mendapat insentif.

Jakarta -kenaikan harga LPG dan plastik dirasakan luas oleh pelaku usaha kuliner di Indonesia. Kondisi ini menambah tekanan di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) Jawa Barat, Rezha Noviana, menegaskan dampak kenaikan tersebut langsung menghantam operasional.
“Dari sisi kami sebagai pelaku jasa boga, ini sangat berpengaruh. Kami sudah menjerit. Kenaikan LPG dan plastik langsung berdampak ke harga jual,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Kontrak dan Margin Tipis
Pelaku usaha yang terikat kontrak dengan klien paling merasakan beban. Harga tidak bisa dinaikkan di tengah jalan, sehingga margin keuntungan semakin tipis.
“Kalau sudah kontrak, kami tidak bisa menaikkan harga. Akhirnya harus putar otak supaya tetap jalan,” jelas Rezha.

Meski ada upaya efisiensi, tidak semua komponen bisa dihemat. “Boks, sendok, mika itu tidak mungkin dihilangkan. LPG juga tidak ada alternatif lain,” tambahnya.

Harga LPG
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut stok energi nasional masih aman. Harga gas subsidi 3 kg Rp17.000, Bright 5,5 kg Rp90.000, dan Bright 12 kg Rp192.000 per tabung. Namun di lapangan, pengusaha tetap merasakan beban kenaikan.

Harga Plastik
Lonjakan harga plastik bahkan mencapai hampir 100 persen. Sekjen Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan kenaikan dipicu gangguan pasokan bahan baku global akibat konflik di Timur Tengah.
“Dengan ditutupnya Selat Hormuz, 70 persen bahan baku nafta tidak bisa keluar,” katanya.

Permintaan pasca-Lebaran juga memperparah ketidakseimbangan suplai. Produk plastik seperti gelas, thinwall, hingga kantong makanan naik drastis.

Dampak ke Usaha
Nafis Ghifari, pengusaha es teh di Semarang, mengaku biaya kemasan naik 65 persen.
“Kerugian bisa sampai 50 persen dari pendapatan. Harga Rp3.000 per gelas sudah tidak ideal, keuntungan hanya Rp500,” ujarnya.

Harapan Pelaku Usaha
Rezha menyoroti pemerintah yang jarang melibatkan pelaku usaha dalam kebijakan.
“Harapan kami, pelaku usaha dirangkul kembali. Pajak tetap, biaya naik, pesanan berkurang, bebannya berlapis,” katanya.

Artikel Terkait

InShot 20260422

Kejuaraan Tinju Amatir Piala Danlanud…

Tanjungpandan, Belitung – Kejuaraan Tinju Amatir…

InShot 20260422

Tambang Ilegal di Laut Ulim…

Belitung– Insiden pembakaran sejumlah ponton Tambang…

InShot 20260422

Puisi Puisi Edy Sukardi

Cinta dan Berbagi Peran Perempuan bukanmakhluk…