
Cermin
ESuSaat malam
merayap naik dan
di belahan bumi ini
jalan-jalan berangsur sepi
terdebgar surah ini
secara bersama
surah yang paling digemari
Ia bukan sekadar
kumpulan aksara tetapi
Ia adalah cermin
pada wajah yang luka
pada hati yang lara
Ia berkisah tentang
tatanan surya yang megah
tetapi semua tunduk pada aturan
Sementara aku yang hanya setitik debu
lupa pada yang maha menentu
Yasin menggelar tanya
‘Sampai kapan kau akan
terlena di panggung dunia yang fana’
Sebentar lagi
kau akan dijemput
saat nafas penghabisan
sedang bergelut
Pada hari itu tak ada lagi
ruang untuk berdusta
mulut yang lancang dikunci
tak lagi bisa mengeluarkan kata-kata
tangan berbicara tentang
apa yang ia raba
dan kaki jadi saksi
kemana saja
Ia melangkah mengelana
Yasin
Bacalah
tapi bukan sekadar dibaca
bukan sekadar dihafal
di luar kepala
bacalah dengan
menangkap maknanya
jadikan cermin
untuk melihat wajah
yang luka
dan hati yang lara
Yasin
Wal quranil hakim
Innaka laminal mursalin
ala shiratil mustaqim
tanzilal azizi rahim
litunzira qaumam ma
unzira abauhum
fahum ghafilun
Pisangan Timur
25 September 2026
- DR. H. Edy Sukardi, M.P.d, Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya
- Sastrawan Indonesia













