Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Ade Irma Suryani Nasution: Putri Kecil 5 Tahun yang Gugur dalam G30S dan Menjadi Simbol Kepedihan 1 Oktober 1965
InShot 20260930

Ade Irma Suryani Nasution: Putri Kecil 5 Tahun yang Gugur dalam G30S dan Menjadi Simbol Kepedihan 1 Oktober 1965

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 30 September 2026 – Jika nama tujuh Pahlawan Revolusi selalu disebut setiap 1 Oktober, ada satu nama kecil yang tak pernah lepas dari rangkaian tragedi Gerakan 30 September 1965. Ia bukan jenderal, bukan perwira, melainkan seorang anak berusia 5 tahun: Ade Irma Suryani Nasution.

Putri bungsu Jenderal Besar Abdul Haris Nasution ini gugur setelah tertembak dalam upaya penculikan terhadap ayahnya pada dini hari 1 Oktober 1965. Kisahnya menjadi pengingat paling memilukan bahwa kekejaman politik tidak hanya merenggut nyawa para prajurit, tetapi juga seorang anak yang tak berdosa.

Latar Belakang: Anak Ceria di Keluarga Jenderal

Ade Irma Suryani Nasution lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960. Ia adalah anak kelima dari pasangan Jenderal Besar TNI A.H. Nasution dan Johanna Sunarti Nasution. Di keluarga, ia akrab dipanggil Ade Irma.

Berbeda dengan kakak-kakaknya yang sudah mulai beranjak dewasa, Ade Irma masih menikmati dunia anak-anak sepenuhnya. Ia dikenal sebagai anak yang ceria, lincah, manja, dan sangat dekat dengan sang ayah.

A.H. Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan merupakan salah satu perwira paling senior di TNI, meski memiliki jadwal yang sangat padat, dikenal sangat menyayangi putri bungsunya itu. Di rumah mereka di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat, Ade Irma tumbuh dengan mainan-mainan kesayangannya, gaun-gaun kecil, dan buku gambar.

Sebagian dari barang-barang peninggalan itu hingga kini masih tersimpan rapi di Museum Jenderal Besar A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Ada sepatu kecil berwarna merah, tas sekolah, dan seragam taman kanak-kanak yang menjadi saksi bisu betapa polosnya usia Ade Irma saat itu.

Kronologi Tragedi 1 Oktober 1965: Peluru yang Menembus Punggung

Dini hari 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB, adalah malam yang mencekam di Jakarta. Pasukan dari Resimen Cakrabirawa, Batalyon I yang dipimpin Letkol Untung Syamsuri, bergerak membagi beberapa tim untuk menculik tujuh jenderal Angkatan Darat.

Salah satu target utama adalah Jenderal A.H. Nasution, yang dianggap sebagai musuh PKI dan merupakan perwira yang paling dihormati di Angkatan Darat.

Sekelompok pasukan bersenjata lengkap mengepung rumah Nasution. Mereka menembaki penjaga dan mendobrak pintu. Suara tembakan membangunkan seluruh isi rumah.

Menurut kesaksian Johanna Sunarti, saat itu Ade Irma yang terbangun karena suara ribut berlari menghampiri ayahnya di kamar. Dalam kepanikan, sang ibu, Johanna, menggendong Ade Irma untuk melindunginya dan mencoba bersembunyi.

Namun, tim penculik yang gagal menemukan Nasution – karena sang Jenderal berhasil meloloskan diri dengan melompati pagar samping rumah dan bersembunyi di kediaman Dubes Irak yang berada di sebelahnya – melampiaskan kekecewaan dengan memberondongkan tembakan secara membabi buta ke dalam rumah.

Salah satu peluru menembus pintu kamar dan mengenai punggung Ade Irma yang sedang digendong ibunya. Peluru itu menembus tubuh kecilnya. Darah mengucur. Johanna sendiri juga terluka tertembak di bagian kaki.

Dalam kekacauan itu, ajudan Nasution, Letnan Satu Pierre Tendean, yang berada di rumah tersebut, ditangkap karena dikira Nasution dalam gelapnya malam. Ia kemudian dibawa ke Lubang Buaya dan gugur bersama enam jenderal lainnya.

Ade Irma yang terluka parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Tim dokter berusaha keras menyelamatkan nyawanya. Selama enam hari, ia berjuang di ruang perawatan dengan kondisi kritis.

Namun, luka tembak di punggungnya terlalu parah untuk anak sekecil itu. Pada 6 Oktober 1965, tepat dua hari setelah jenazah para Pahlawan Revolusi ditemukan di Lubang Buaya, Ade Irma menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD. Ia wafat di usia 5 tahun 7 bulan.

Kepergiannya membuat duka keluarga Nasution menjadi ganda: kehilangan rekan-rekan seperjuangan dan kehilangan putri tercinta.

Warisan dan Peringatan: Dari Makam hingga Lagu Anak-Anak

Jenazah Ade Irma tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama para Pahlawan Revolusi, karena ia adalah warga sipil. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, di sebuah makam keluarga yang hingga kini masih diziarahi.

Di batu nisannya, sang ayah, Jenderal A.H. Nasution, menuliskan kalimat yang sangat menyentuh dan menjadi terkenal hingga kini:

“Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu.”

Kalimat itu menggambarkan betapa Nasution merasa putrinya gugur menggantikannya, menjadi tameng peluru yang seharusnya ditujukan kepadanya.

Untuk mengenang Ade Irma, negara dan masyarakat mengabadikan namanya di banyak tempat:

  1. Jalan Ade Irma Suryani: Hampir di setiap kota di Indonesia terdapat Jalan Ade Irma Suryani Nasution, biasanya berdekatan dengan Jalan Pahlawan Revolusi lainnya.
  2. Taman dan Sekolah: Di Cirebon terdapat Taman Ade Irma Suryani yang menjadi ruang terbuka hijau ikonik. Banyak pula Taman Kanak-Kanak (TK) Ade Irma Suryani, termasuk TK di komplek Museum Nasution, dan beberapa panti asuhan yang menggunakan namanya.
  3. Museum A.H. Nasution: Kamar Ade Irma di museum tersebut dipertahankan seperti aslinya. Di sana tersimpan lukisan dirinya, mainan, dan pakaian terakhir yang ia kenakan. Museum ini menjadi saksi hidup kekejaman G30S dari sudut pandang keluarga korban.
  4. Lagu “Ade Irma Suryani”: Pencipta lagu anak-anak legendaris, A.T. Mahmud, menciptakan sebuah lagu berjudul “Ade Irma Suryani” untuk mengenangnya. Liriknya yang polos dan menyayat hati masih dinyanyikan di sekolah-sekolah dasar hingga kini:

“Gugur bungaku, Ade Irma Suryani… Sebagai pahlawan putri sejati…”

Lagu ini mengubah duka menjadi pengingat yang lembut bagi anak-anak Indonesia tentang bahaya pengkhianatan dan pentingnya Pancasila.

Makna Sejarah: Korban Termuda dan Simbol Hari Kesaktian Pancasila

Dalam narasi sejarah nasional, Ade Irma Suryani memiliki posisi yang unik. Ia bukan Pahlawan Revolusi secara gelar, namun ia diakui sebagai Pahlawan Kecil, korban termuda dalam tragedi G30S/PKI.

Kisahnya memperkuat pemaknaan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober. Jika 7 Pahlawan Revolusi gugur sebagai prajurit yang mempertahankan ideologi negara, maka Ade Irma gugur sebagai simbol kepolosan dan kemanusiaan yang menjadi korban dari kebiadaban politik.

Ia menjadi jembatan emosi yang membuat masyarakat umum, terutama para orang tua dan anak-anak, bisa merasakan kepedihan peristiwa 1965 secara lebih personal. Bukan hanya soal perebutan kekuasaan di tingkat elit, tetapi soal seorang anak 5 tahun yang kehilangan masa depan karena peluru yang tak seharusnya ada.

Setiap tahun, menjelang 1 Oktober, makam Ade Irma selalu ramai diziarahi oleh keluarga besar TNI, pelajar, dan masyarakat umum. Mereka datang membawa bunga, bukan hanya untuk mengenang seorang anak kecil, tetapi untuk mengenang bahwa sejarah kelam tidak boleh terulang kembali, dan bahwa Pancasila harus dijaga agar tidak ada lagi Ade Irma-Ade Irma lain yang menjadi korban.

Artikel Terkait

IMG 20260930 WA1831

Belitung Tetapkan 12 Cagar Budaya,…

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, Belitung –…