TANJUNGPANDAN, MEDIA DAULAT RAKYAT – Di tengah krisis air bersih akibat kemarau panjang yang melanda Belitung, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Belitung menunjukkan inovasi tanggap darurat yang patut diapresiasi. PMI berhasil mengolah sumber air baku dari kolong belakang RSUD Marsidi Judono yang awalnya keruh menjadi layak didistribusikan kepada warga terdampak kekeringan.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa metode sederhana namun terukur mampu menjadi solusi cepat di saat krisis.
Fakta Utama Pengolahan Air
- Lokasi Sumber Air: Kolong (danau bekas tambang) di belakang RSUD Marsidi Judono, Tanjungpandan, Belitung.
- Kondisi Awal Air Baku: Setelah diperiksa, air memiliki pH 7,6 yang artinya ideal dan masuk standar Permenkes 6,5 – 8,5. Namun kekeruhan mencapai 19 NTU, jauh di atas batas aman air minum maksimal 5 NTU dan standar air bersih <3 NTU.
- Standar Kelayakan: Kekeruhan harus diturunkan maksimal hingga 5 NTU agar aman dan layak didistribusikan.
- Metode Pengolahan: Program WASH (Water Sanitation and Hygiene) PMI dengan teknik koagulasi – injeksi tawas untuk mengikat partikel.
- Dosis Optimum: Ditemukan dosis terbaik 6 ml larutan tawas per volume uji.
- Kebutuhan Riil: Untuk menjernihkan 12.000 liter air baku, dibutuhkan 720 gram tawas.
- Distribusi: Sudah dilakukan dua kali distribusi menggunakan mobil tangki PMI berkapasitas 10.000 liter ke warga terdampak.
Kutipan Penting
Sekretaris PMI Belitung, Bustam, menjelaskan proses ilmiah di baliknya:
“Ya, jadi dari awal air baku yang ada di kolong belakang RSUD ini setelah kita periksa untuk kekeruhannya, kekeruhannya itu ada di 19 NTU. Kemudian pH-nya ada di 7,6. Jadi, dari sisi segi kelayakan pH-nya bagus tapi kekeruhannya itu cukup tinggi.”
Tentang penemuan dosis tawas, ia merinci:
“Jadi kita ketemunya di enam mililiter. Enam mililiter itu kita jadikan dosis untuk menjernihkan air sebanyak 12.000 liter. Jadi nanti sebanyak 12.000 liter kita inject ke dalamnya tawas sebanyak 720 gram untuk memisahkan partikel atau ion-ion negatif yang ada di dalam air agar bisa mengendap dengan baik sehingga kita dapat menghasilkan lima NTU.”
Dan hasil akhirnya telah memenuhi standar:
“Sehingga menghasilkan pasokan air bersih dengan tingkat kekeruhan di angka lima NTU yang aman dan layak didistribusikan kepada warga.”
Dampak bagi Masyarakat
Langkah ini sangat krusial. Saat PDAM Tirta Belitung dan sumur warga mengalami penurunan debit drastis akibat kemarau, sumber alternatif dari kolong ini menjadi penyelamat. Air yang telah diolah kini bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga, sekolah, dan rumah ibadah.
Distribusi cepat melalui armada tangki memastikan kebutuhan mendesak terpenuhi. Sebelumnya, PMI Belitung bersama PT Pelindo Regional 2 Tanjungpandan yang menyalurkan 50 ton air bersih sejak 23 September – 8 Oktober 2026, bahu-membahu menjaga pasokan.
Analisis Daulat Rakyat
Langkah PMI Belitung ini menunjukkan respons tanggap darurat yang efektif dan berbasis sains. Tidak hanya menyalurkan, tapi mengolah sumber air lokal yang selama ini belum termanfaatkan.
Dengan metode injeksi tawas – teknologi koagulasi yang murah, mudah didapat, dan terukur – PMI mampu menurunkan kekeruhan dari 19 NTU ke batas aman 5 NTU. Ini sesuai standar fisik air minum yang harus tidak keruh.
Keberhasilan ini bisa menjadi model penanganan darurat air bersih di daerah lain di Bangka Belitung dan Sumatera yang menghadapi masalah serupa. Kuncinya adalah pemeriksaan laboratorium cepat (pH dan NTU) dan penentuan dosis koagulan yang tepat.












