Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Opini
  • OPINI: MEMBANGUN MANGGAR BELITUNG TIMUR BERBASIS CAGAR BUDAYA
IMG 20261013 WA4553

OPINI: MEMBANGUN MANGGAR BELITUNG TIMUR BERBASIS CAGAR BUDAYA

Oleh: Akhlanudin/ Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – 2918

Ketika kita membicarakan Manggar, kita tidak sedang membicarakan kota baru yang lahir kemarin sore. Manggar adalah sebuah peradaban industri yang sudah berumur 155 tahun. Dulu ia adalah jantung pertambangan timah Hindia Belanda, hari ini ia adalah ibukota Kabupaten Belitung Timur dengan predikat Kota 1001 Warung Kopi. Pertanyaannya, bagaimana Manggar melompat dari kota tambang menjadi kota masa depan tanpa kehilangan jati dirinya?

Jawabannya adalah membangun Manggar berbasis cagar budaya. Bukan membangun dengan menimbun sejarah, melainkan membangun dengan menghidupkan kembali sejarah. Dan untuk itu, Manggar punya lima pilar yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia: EC Manggar, Dok Manggar, Trem Kereta Api Manggar, Sekolah AC Manggar, dan Pelabuhan Minyak Oliepier Manggar.

1.EC Manggar: Ketika Manggar Pernah Menerangi Pulau Belitung

Banyak yang salah kaprah mengira EC adalah European Club. Padahal EC yang dimaksud dalam sejarah industri Manggar adalah Electrische Centrale, pembangkit listrik. Dan ini bukan pembangkit listrik biasa.

Berdasarkan dokumentasi foto lawas koleksi Ir J. van den Broek Kepala Insinyur Billiton Maatschappij tahun 1921 yang tersimpan di Leiden University Libraries, EC Manggar adalah pembangkit listrik tenaga diesel dengan generator raksasa merek Sulzer. Pada masanya di tahun 1950-an, EC bahkan disebut-sebut dalam pelajaran Ilmu Bumi di sekolah-sekolah sebagai PLTD terbesar se-Asia Tenggara. Ini adalah fakta yang luar biasa.

Fungsi EC sangat vital. Ia tidak hanya menerangi rumah-rumah karyawan timah secara gratis dan rumah penduduk umum dengan tarif murah, tetapi juga menjadi power supply utama untuk Kapal Keruk darat dan tambang semprot yang beroperasi di seluruh Beltim, dari Manggar, Selumar, Gantung, Damar hingga Kampit. Tanpa EC, timah Belitung tidak akan pernah bisa ditambang secara massal.

Bahkan lokasi EC pun punya nilai sejarah geologi. Dalam syair riwayat Kota Manggar bait 243 tertulis Namanja tempatnja Air Mengkoeang, yang menunjukkan lokasi Kulong Minyak di kaki Bukit Samak tepat di bawah bangunan EC. Kulong itu dibuka tahun 1927 oleh NV Billiton Maatschappij karena kaya timah, lalu setelah habis dikeruk, beralih fungsi menjadi sumber pendingin alami untuk mesin-mesin EC. Inilah yang sekarang kita kenal sebagai Kolong Minyak yang baru saja direvitalisasi Pemkab Beltim.

Sayangnya, ketika PT Timah mengalami masa sulit periode 1990-1991, EC dianggap berbiaya operasional tinggi dan mulai dinonaktifkan. Pada 1994-1995, EC dilelang dan bangunannya beserta mesin-mesinnya habis dipreteli. Hari ini yang tersisa hanya cerita dan foto-foto lawas.

Membangun Manggar berbasis cagar budaya berarti menghidupkan kembali memori EC. Jangan biarkan tapaknya hilang. Di lokasi eks EC, bangunlah Museum Energi dan Timah. Tampilkan replika generator Sulzer, ceritakan bagaimana Manggar pernah menjadi kota dengan listrik paling modern di Asia Tenggara sebelum Jakarta terang benderang. Ini akan menjadi daya tarik edukasi energi yang sangat kuat, sejalan dengan semangat transisi energi hari ini. Jika Cirata bisa bangga sebagai PLTS terbesar di Asia Tenggara hari ini, Manggar harus bangga pernah menjadi yang terbesar 70 tahun lalu.

2. Dok Manggar dan Pelabuhan Minyak Oliepier: Dua Sisi Kejayaan Logistik

Jika EC adalah jantungnya, maka Dok Manggar dan Pelabuhan Minyak Oliepier adalah tangan dan kakinya. Dua situs ini adalah bukti Manggar adalah kota logistik maritim-industri yang lengkap.

Dok Manggar adalah galangan kapal dan bengkel besar milik Billiton Maatschappij untuk membangun dan memperbaiki kapal keruk dan tongkang. Tanpa Dok, armada timah tidak akan ada. Sementara Pelabuhan Minyak Oliepier Manggar adalah dermaga minyak yang sangat sibuk pada zamannya. Nama Oliepier berasal dari bahasa Belanda, Olie berarti minyak dan Pier berarti pelabuhan. Fungsinya adalah stasiun pengisian bahan bakar untuk kapal-kapal pengangkut timah.

Dibangun oleh NV Billiton Maatschappij, pelabuhan ini dulu ramai. Kini yang tersisa hanya tiang-tiang penyangga dermaga yang lapuk termakan usia di Pantai Oliepier Desa Lalang. Namun justru tiang-tiang itulah yang kini menjadi ikon fotografi yang eksotis. Pasir halus, ombak tenang, dan pemandangan sunrise menghadap timur membuat Pantai Oliepier punya potensi wisata sejarah dan alam sekaligus.

Bupati Belitung Timur Burhanudin pernah menyayangkan banyaknya objek di Kota Manggar yang terbengkalai seperti Pelabuhan Manggar, Galangan Kapal, dan lapangan golf yang seharusnya bisa menjadi pendongkrak ekonomi. Keluhan ini harus dijawab. Dok dan Oliepier tidak boleh dibiarkan menjadi besi tua. Keduanya harus diintegrasikan menjadi Kawasan Wisata Industri Maritim. Dok dijadikan museum galangan terbuka, Oliepier dijadikan pier wisata sejarah dengan rekonstruksi dermaga minyak dan cafe sunset. Wisatawan bisa belajar bagaimana rantai pasok timah dunia bekerja dari Manggar.

3. Trem Kereta Api Manggar: Jejak Rel yang Terlupakan

Manggar pernah punya kereta api. Bukan kereta penumpang seperti di Jawa, tapi trem lori rel sempit untuk mengangkut bijih timah dari lokasi tambang ke pabrik pencucian. Ini adalah sistem transportasi industri paling awal di Belitung. Rel-rel itu kini mungkin tertutup aspal, tapi jejaknya adalah bukti kecanggihan teknologi tambang di Manggar.

Konsep Heritage Railway Trail sangat cocok di sini. Tidak perlu membangun kereta baru, cukup tandai jalur bekas trem, buat replika lori kecil yang bisa dinaiki wisatawan keliling kota dari EC menuju Dok dan Oliepier. Ini akan menjadi pengalaman wisata edukasi yang tidak ada duanya.

4. Sekolah AC Manggar: Akar Pendidikan Vokasi

Masyarakat Belitong menyebutnya Sekolah AC, singkatan dari Ambacht Cursus. Dibangun tahun 1928, ini adalah sekolah ikatan dinas pertama di Pulau Belitong setara SLTA yang didirikan perusahaan timah untuk mendidik tenaga terampil pribumi: tukang kayu, besi, listrik, dan teknisi tambang. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Manggar sudah berpikir tentang link and match pendidikan dan industri.

Ini sangat relevan dengan fokus pembangunan Manggar 2027 yang dicanangkan Bupati Kamarudin Muten: dukungan pembangunan Sekolah Rakyat dan pendidikan vokasi di Desa Padang. Akarnya sudah ada di Sekolah AC. Bangunan dan filosofinya harus dihidupkan kembali sebagai SMK Heritage atau Politeknik Timah dan Industri Kreatif.

Penutup: Dari Kota Timah Menjadi Kota Ingatan

Manggar tidak perlu menjadi seperti Bali atau Jogja. Manggar cukup menjadi dirinya sendiri. Model pembangunan berbasis cagar budaya dengan lima pilar EC sebagai pembangkit listrik terbesar se-Asia Tenggara, Dok sebagai galangan, Trem sebagai transportasi, Sekolah AC sebagai pendidikan vokasi, dan Pelabuhan Minyak Oliepier sebagai logistik, akan menciptakan satu kesatuan cerita yang utuh: cerita tentang sebuah kota yang pernah menggerakkan ekonomi dunia dari timah.

Buatlah satu Kawasan Kota Tua Manggar yang terintegrasi. Hubungkan kelimanya dalam satu rute jalan kaki, sepeda, dan lori wisata. Libatkan BUMDes dan Karang Taruna sebagai pengelola. Akhiri setiap tur di warung kopi, karena warung kopilah ruang demokrasi pertama Manggar.

Jika ini dilakukan, Manggar tidak hanya akan bejaye hari ini, tapi akan dikenang 100 tahun ke depan. Pembangunan yang melupakan sejarah akan cepat usang. Pembangunan yang merawat sejarah akan abadi.

Artikel Terkait

InShot 20261014

Menakar Kinerja Bupati Belitung Djoni…

TANJUNGPANDAN, MEDIA DAULAT RAKYAT – Dilantik…

InShot 20261013

Menyoroti Kinerja 20 Bulan Bupati…

Manggar, Media Daulat Rakyat — Dua…