
Tanjungpandan, Belitung — Perayaan Waisak 2025 di Belitung menjadi momentum kebersamaan dan sinergi antarumat beragama serta pemangku kepentingan. Pembimbing Masyarakat Tionghoa Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Wisnu Widiyanto, mengapresiasi eratnya hubungan antara umat Buddha dengan berbagai pihak dalam perayaan yang berlangsung di Negeri Laskar Pelangi.
“Ini merupakan kebahagiaan karena sinergisitas umat Buddha di Belitung sangat luar biasa sekali,” ujar Wisnu dalam acara Sannipata Waisak Negeri Laskar Pelangi Tahun 2025, yang mengusung tema “Bersinergi Menuju Pencerahan”.
Keberagaman Aliran Buddha di Belitung
Belitung menjadi salah satu pusat perkembangan ajaran Buddha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari total 10 majelis yang ada di provinsi tersebut, tujuh di antaranya berlokasi di Belitung, mencerminkan semangat keberagaman yang mendukung sinergi antarumat beragama.
“Keberadaan tujuh majelis ini menunjukkan betapa kuatnya persaudaraan dan kebersamaan dalam komunitas Buddha di Belitung, sesuai dengan tema Waisak tahun ini,” tambah Wisnu.
Makna Hari Raya Waisak
Hari Raya Waisak memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Buddha, memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama, yakni:
- Kelahiran Siddharta Gautama yang kelak menjadi Buddha.
- Pencapaian Pencerahan, di mana ia memperoleh wahyu dan menjadi Sang Buddha.
- Wafatnya atau Parinibbana, saat ia mencapai pembebasan sempurna dari dunia ini.
Ketiga peristiwa ini terjadi dalam bulan Waisak, yang dikenal sebagai bulan purnama penuh dan menjadi momen suci bagi umat Buddha di seluruh dunia.
Semarak Perayaan dan Harapan Masa Depan
Perayaan Waisak berlangsung meriah di berbagai daerah di Bangka Belitung, termasuk Pangkalpinang yang menjadi lokasi perayaan terakhir pada Senin. Wisnu menyoroti semangat kebersamaan yang terus berkembang di tengah tantangan ekonomi.
“Saya keliling melihat semarak Waisak di berbagai tempat, dan ini bukti bahwa kebersamaan tetap tumbuh, walaupun kondisi ekonomi mungkin masih kurang bagus. Semangat persatuan yang ditunjukkan umat Buddha patut diapresiasi,” ungkapnya.
Pendapat Masyarakat Buddha Setempat
Arya Dharma, seorang pemuka agama Buddha setempat, menilai perayaan Waisak di Belitung bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga refleksi spiritual yang memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
“Waisak bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi bagi kami untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan kasih sayang. Semangat sinergi ini semakin terasa di Belitung, dan kami berharap terus berkembang,” katanya.
Sementara itu, umat Buddha lainnya, Lina Wijaya, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak dalam penyelenggaraan acara.
“Kami sangat bersyukur atas dukungan dari berbagai pihak. Perayaan Waisak tahun ini menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan perbedaan yang memisahkan,” ujarnya.
Harapan bagi Pemerintah Daerah
Dalam kesempatan itu, Wisnu juga menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah terus mendukung umat Buddha dengan berbagai fasilitasi yang diperlukan.
“Semangat rekan-rekan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia terlihat jelas dalam perayaan ini, termasuk penampilan paduan suara yang istimewa. Ini adalah potensi yang layak untuk kita tumbuh kembangkan di Negeri Laskar Pelangi,” pungkasnya.












