
oleh : Akhlanudin *)
Dari Tapak Kerajaan ke Jejak Budaya yang Terlupakan
Di sudut timur Pulau Belitung, tepatnya di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, terbentang warisan peradaban lokal yang nyaris tenggelam oleh arus zaman: Kerajaan Buding. Berdiri antara abad ke-15 hingga ke-17, kerajaan ini menjadi saksi interaksi perdagangan, diplomasi lokal, dan penyebaran Islam di pesisir timur Sumatera bagian selatan. Meski tidak setenar Sriwijaya atau Majapahit, Buding meninggalkan jejak yang kuat—baik secara fisik maupun budaya.
Tapak Peradaban: Arkeologi dan Situs Bersejarah

Situs utama Kerajaan Buding berada di wilayah Padang Ladik dan sekitarnya. Di sini ditemukan:
- Nisan batu dengan inskripsi Arab kuno, mirip dengan peninggalan Kerajaan Demak.
- Struktur fondasi batu persegi, diperkirakan bagian dari kompleks istana atau pusat pemerintahan.
- Artefak tembikar dan logam, mengindikasikan aktivitas domestik dan perdagangan.
- Museum Istiqomah Buding, dibangun di atas bekas Masjid tahun 1811, menyimpan perlengkapan tradisional, senjata kuno, dan benda warisan kerajaan.
Upaya pemetaan dan pelestarian oleh pemerintah lokal dan komunitas budaya telah menghasilkan identifikasi situs yang layak dijadikan cagar budaya.
Raja-Raja Kerajaan Buding

Menurut dokumen lokal seperti Buku Perjuangan Rakyat Belitung 1924–1950 dan tradisi lisan, silsilah raja-raja Buding meliputi:
| Nama Raja | Periode | Peran dan Pengaruh |
|---|---|---|
| Datuk Kemiring Wali Raib | Pendiri | Raja pertama, dianggap sebagai pendiri kerajaan dan tokoh spiritual awal. |
| Taila | Penerus | Melanjutkan kekuasaan, memantapkan hubungan dengan kerajaan tetangga. |
| Duame | Abad ke-16 | Memperkuat struktur pemerintahan dan diplomasi lokal. |
| Kahar | Transisi kolonial | Raja yang aktif dalam perdagangan dan hubungan luar. |
| Kadir | Raja terakhir | Pemerintahan terakhir sebelum pengaruh kolonial masuk secara dominan. |
Nama-nama ini masih diingat dan dihormati dalam cerita rakyat dan ritual adat masyarakat Buding.
Dinamika Politik dan Diplomasi
Kerajaan Buding memainkan peran strategis sebagai pusat perdagangan dan transit komoditas seperti rotan, damar, serta timah. Posisi geografisnya memungkinkan hubungan dengan:
- Kesultanan Palembang
- Kerajaan pesisir Kalimantan
- Pedagang Tionghoa dan Melayu
- Kesultanan Johor dan Jambi
Diplomasi dilakukan melalui pernikahan antar bangsawan, pengiriman utusan budaya, dan pengelolaan konflik antar wilayah yang kerap terjadi di kawasan Bangka-Belitung.
Warisan Budaya dan Kepercayaan
Buding dikenal sebagai salah satu dari empat kerajaan Islam di Belitung, bersama Badau, Balok, dan Belantu. Bukti penyebaran Islam terlihat dalam:
- Tradisi Mandi Belimau menjelang Ramadan
- Ritual Berkat Buding yang menggabungkan doa dan simbol kekuatan leluhur
- Musik gambus, syair Melayu, dan tarian zapin sebagai warisan kesenian istana
- Nisan dan manuskrip Arab kuno yang menunjukkan integrasi Islam awal
Upaya Pelestarian dan Tantangan
Pelestarian Kerajaan Buding dihadapkan pada berbagai tantangan:
- Minimnya dokumentasi tertulis
- Perubahan fungsi lahan akibat eksplorasi tambang
- Kurangnya dukungan anggaran untuk konservasi
- Kebutuhan edukasi dan kampanye budaya yang lebih luas
Namun, gerakan komunitas, dukungan LSM, serta keterlibatan akademisi seperti Balai Arkeologi Sumatera Selatan dan UIN Raden Fatah menunjukkan harapan untuk merevitalisasi narasi Buding sebagai aset sejarah dan identitas lokal.
*) Akhlanudin ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – 2018












