Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Penjaga Arus, Penjaga Warisan: Sungai Kembiri, Sungai Lenggang, dan Sungai Buding dalam Kearifan Lokal Belitung
Img 20250727 211132

Penjaga Arus, Penjaga Warisan: Sungai Kembiri, Sungai Lenggang, dan Sungai Buding dalam Kearifan Lokal Belitung

Img 20250727 211225

Oleh: Akhlanudin

Di tanah Belitung , tiga sungai mengalir tidak hanya membawa air, tetapi juga warisan, kepercayaan, dan jiwa kolektif masyarakat: Kembiri, Lenggang, dan Buding. Melalui puake atau petuah adat, diyakini bahwa siapa pun yang mengganggu aliran ketiga sungai ini akan mengundang bencana.

Keyakinan tersebut bukan sekadar takhayul, melainkan pancaran filosofi hidup yang berakar dalam sejarah, spiritualitas, dan budaya lokal.

Img 20250727 211355
Sungai sebagai Poros Sejarah dan Kehidupan
  • Sungai Buding telah lama menjadi jalur transportasi dan pusat aktivitas ekonomi, khususnya dalam perdagangan timah dan karet sejak masa kolonial Hindia Belanda. Di sepanjang sungai ini tumbuh pemukiman dan kampung tua yang kini menjadi saksi bisu peradaban Belitung.
  • Sungai Lenggang, yang mengalir di daerah Gantung dan sekitarnya, menjadi penopang kehidupan masyarakat: air untuk bertani, jalur bagi nelayan, serta tempat berkumpul dan bermusyawarah. Lenggang bukan hanya sungai, melainkan arus yang mengalirkan solidaritas dan kerja sama.
  • Sungai Kembiri, yang lebih tenang dan kecil, memiliki peran spiritual yang sangat kuat. Ia sering menjadi tempat pelaksanaan ritual adat, penyambung desa tua, dan dianggap sebagai jalur para leluhur saat mengawasi keturunannya.
Mitos dan Kepercayaan Spiritual

Sungai-sungai ini dianggap “hidup”—punya roh dan kekuatan yang harus dihormati.

  • Di Buding, sungai diyakini dijaga oleh Datuk Belantara, makhluk gaib yang melindungi arus dan akan murka bila sungai dikotori. Di sinilah juga dilangsungkan tradisi Mandi Belimau, ritual pembersihan diri menjelang Ramadhan yang dipercayai mampu menolak bala dan menyucikan batin.
  • Di Lenggang, masyarakat mengenal cerita tentang Si Nenek Buih, roh perempuan tua yang sesekali muncul di riak air pada malam bulan gelap, sebagai pertanda akan datangnya perubahan atau malapetaka.
  • Sedangkan Kembiri dipercaya sebagai jalur lintasan para leluhur. Beberapa tetua adat menyebut sungai ini sebagai “pintu roh” yang terbuka saat masyarakat melakukan ritual tertentu.
Puake Adat: Larangan dan Tata Hidup

Puake tentang larangan mengganggu aliran sungai bukan hanya nasihat, tapi sistem regulasi sosial dan ekologis.

  • Pantang membuka lahan atau membangun di tepi sungai tanpa izin musyawarah adat.
  • Larangan keras membuang limbah, darah hewan kurban, atau benda najis ke dalam sungai.
  • Ritual seperti mengambil air untuk penyembuhan hanya bisa dilakukan oleh tetua yang “berilmu”.
  • Prosesi seperti Nugal Daun—penanda musim tanam—harus melalui sungai untuk meminta berkah alam.

Dengan demikian, sungai tidak hanya menjadi sumber air, melainkan bagian dari kosmologi dan kehidupan spiritual masyarakat.

Makna Sosial dan Ekologis

Petuah tentang menjaga sungai mengandung pesan mendalam:

  • Menjaga sungai berarti menjaga keseimbangan hidup—mencegah banjir, kelangkaan air, dan kerusakan ekosistem.
  • Menghormati sungai berarti melestarikan sejarah dan identitas lokal—karena sungai adalah “arsip hidup” yang mencatat jejak nenek moyang.
  • Melestarikan sungai berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur—melalui ritual, tradisi, dan kepercayaan.

Ketiga sungai itu menjadi cermin masyarakat Belitung: bila dijaga, mereka mengalirkan berkah; bila diabaikan, mereka mengundang bencana.

  • Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – 2018

Artikel Terkait

InShot 20260501

Hari Buruh 2026 di Belitung…

Belitung (– Peringatan Hari Buruh Internasional…

InShot 20260501

Presiden Tegaskan Komitmen Sediakan Hunian…

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan…

InShot 20260501

Puisi Puisi Edy Sukardi

Jejak-jejak Waktu Waktu berjalan tanpa suaratetapi…