
Oleh : Akhlsnudin
Pada tahun 1998, di tengah gelombang reformasi nasional, Kabupaten Belitung mengalami pergolakan politik yang berujung pada pelengseran Bupati Urip TP Alam.
Meski tidak secara eksplisit disebut sebagai “Forum Dukun Belitung,” dinamika lokal saat itu melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat dan spiritual, yang turut menyuarakan ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan Urip
Pada 6 Juni 1998, Komite Reformasi Belitung Untuk Masa Depan (KRBUMD) menggelar aksi demonstrasi di gedung DPRD Belitung. Tuntutan mereka tegas: Urip TP Alam harus mundur. Dalam aksi yang berlangsung damai namun konsisten, mereka mengedepankan aspirasi masyarakat yang merasa kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Urip.
Namun, yang menarik, tekanan tidak hanya datang dari ranah politik formal. Beberapa tokoh adat dan spiritual lokal, meskipun tidak tergabung dalam struktur resmi seperti DPRD, menyuarakan ketidakpuasan melalui jalur yang lebih simbolik—dengan ritual adat dan petuah budaya sebagai bentuk peringatan.
Istilah “Forum Dukun Belitung” mungkin lebih hidup di ruang narasi lisan daripada arsip resmi. Namun, banyak warga setempat mengenang bagaimana para dukun dan sesepuh adat turut memberikan tekanan spiritual dan moral.
Dalam budaya Belitung, para penjaga tradisi tidak hanya memiliki posisi sakral—mereka juga menjadi barometer moral masyarakat.
Kronologi Singkat:
- 6 Juni 1998: Komite Reformasi Belitung Untuk Masa Depan (KRBUMD) menggelar demonstrasi pertama di DPRD Belitung, menuntut pengunduran diri Urip TP Alam.
- 17–21 Juni 1998: Gelombang aksi semakin besar. DPRD mulai mempertimbangkan mosi tidak percaya. Urip menyatakan kesediaan mundur jika sesuai prosedur konstitusional.
- 3 September 1998: SK Mendagri RI No. 131.26-730 resmi memberhentikan Urip sebagai Bupati Belitung.
- 24 September 1998: Serah terima jabatan dilakukan di DPRD, dan H. Nang Ali Solihin ditunjuk sebagai pelaksana harian
Hari Senin- Selasa : 27 Juli -28 Juli 1998: Ratusan massa yang tergabung dalam KRBUMD dan GEMPUR, Karbel, mendatangi kantor gedung pemerintah daerah Belitung di Jalan A Yani Tanjungpandan.
Massa pun pun beringas dan memasuki kantor dan pada kesempatan itu kembali Urip TP Alam menegaskan kalau ia bersedia mundur. Nyaris terjadi bentrokan fisik antara Urip TP Alam Dengan massa, secara bergantian massa menduduki gedung pemkab Belitung.
Pada hari Selasa 28 Juli 1998: Dengan membawa usungan (karanda) mayat yang ditutup kain putih bertuliskan Urip TP Alam mundur.”Kami tak ingin kau lagi”, massa kembali mendatangi kantor pemda dan rumah dinas bupati belitung yang letaknya berdekatan dengan kantor Bupati Belitung.
Di hari yang sama tanggal 28 Juli 1998: merasa keselamatan terancam, Urip TP Alam dan keluarga terpaksa kabur dan meninggalkan belitung dengan menggunakan pesawat khusus Hercules/sebelumnya
Namun saksi mata melihat secara langsung jenis pesawat yang urip tumpangi saat kejadian itu berlangsung adalah pesawat Deraya Air.
Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam sumber resmi banyak narasi lisan menyebut bahwa tokoh adat dan spiritual turut berperan dalam menggalang tekanan moral terhadap pemerintahan daerah.
Dalam tradisi Belitung, suara para sesepuh dan pemangku adat memiliki bobot sosial yang tinggi, terutama dalam situasi krisis kepercayaan.
- Akhlsnudin Ketua Dewan Kesenian Belitung ,2014 – ,2018












