
Tanjungpandan, Belitung – Pemerintah Kabupaten Belitung bersama Bank Indonesia menggelar kegiatan Capacity Building Pengendalian Inflasi pada Rabu pagi (20/8), bertempat di Ballroom BW Suite Hotel Tanjungpandan. Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat.
Dalam sambutannya, Bupati Djoni menyampaikan bahwa tren inflasi di Belitung pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,6 persen—sedikit di atas target maksimal 2 persen.
“Meski masih dalam batas wajar, kondisi ini tetap menjadi perhatian pemerintah daerah karena inflasi berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Belitung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memetakan hambatan dari sisi distribusi, produksi, dan kapasitas stok.
Jika kendala berasal dari distribusi, maka perbaikan jalur pasok akan dilakukan. Sementara jika menyangkut ketersediaan, pemerintah akan memastikan stok kebutuhan tetap aman.
“Harus fokus, karena inflasi ini dampaknya nanti ke pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.
Deputi Kepala Perwakilan BI Bangka Belitung, Beny Okta, turut hadir dan menjelaskan alasan pemilihan Belitung sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, tingkat inflasi di wilayah ini tercatat paling tinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Data Juli menunjukkan inflasi Belitung Timur mencapai 3,5 persen, Belitung 2,65 persen, sementara inflasi provinsi berada di angka 2,05 persen.
Beny menyebut bahwa komoditas penyumbang inflasi di Belitung sebagian besar berasal dari sektor pangan, seperti ikan laut, daging ayam, dan bawang merah.
“Kondisi ini makin dipengaruhi cuaca ekstrem yang mengganggu pasokan,” jelasnya.
Kegiatan Capacity Building ini menghadirkan berbagai narasumber untuk memperkuat pemahaman TPID, kelompok tani, dan nelayan terkait potensi usaha serta inovasi pengendalian inflasi.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat sektor perikanan dan pertanian sebagai penopang pertumbuhan ekonomi, selain sektor tambang dan industri pengolahan.
“Selain menekan inflasi, sektor pangan juga bisa jadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Kami berharap kegiatan ini bisa memberi solusi alternatif,” tambah Beny.
Sebelumnya, BI juga menggandeng organisasi perempuan seperti PKK, Bhayangkari, dan Dharma Wanita untuk mengedukasi masyarakat terkait belanja bijak. Upaya ini dilakukan agar pengendalian inflasi dapat berjalan dari sisi permintaan, dimulai dari tingkat keluarga.












