
Oleh: Akhlanudin
Di Tokyo, semua orang berdiri dan berjalan. Tak peduli kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, ruang publik menuntut kesetaraan.
Di kereta, penumpang rela berdiri agar orang lain bisa duduk. Tak ada perebutan kursi, tak ada saling sikut demi kedudukan. Yang ada justru perlombaan berbuat baik, memberi ruang, dan saling menghormati.
Puisi Edy Sukardi (ESu) yang ditulis di Tokyo pada 29 September 2025, menjadi cermin tajam bagi kita di Indonesia: sudahkah kita belajar berdiri dan berjalan?
Di kampung kita, kursi justru menjadi simbol perebutan. Kursi jabatan, kursi kekuasaan, bahkan kursi mobil dinas yang “makin sepi penumpang” pun diperebutkan.
Politisi saling lempar kursi, bukan saling memberi ruang.
Mereka berlomba kembali ke Senayan, bukan berlomba memperbaiki nasib rakyat. Ironi ini makin terasa ketika program makan bergizi untuk anak sekolah—yang digadang-gadang sebagai program unggulan dengan dana triliunan—justru berujung keracunan.
Di mana letak pengabdian? Di mana etika pelayanan publik?
Puisi ESu bukan sekadar refleksi perjalanan, tapi tamparan lembut bagi kita semua.
Ia mengajak kita melihat bahwa berdiri dan berjalan bukan hanya aktivitas fisik, tapi juga sikap hidup.
Berdiri berarti siap menghadapi kenyataan, berjalan berarti terus bergerak menuju perbaikan. Di Jepang, anak-anak menyebrang jalan tanpa rasa takut, bahkan saat malam menjelang.
Di sini, anak-anak keracunan makanan di sekolah. Kita harus bertanya: apa yang salah?
Sayangnya, alih-alih introspeksi, kita sering mencari kambing hitam.
“Ada pengacau dari luar,” kata sebagian pejabat. Padahal, pengacau terbesar adalah ketidakmampuan kita sendiri untuk berdiri dan berjalan secara jujur dan adil.
Kita terlalu sibuk duduk di kursi empuk, lupa bahwa rakyat berdiri di antrean panjang, berjalan di jalan rusak, dan naik-turun tangga kehidupan tanpa jaminan keselamatan.
Puisi ini mengingatkan kita bahwa ruang publik adalah tempat kesetaraan. Di sana, tak ada yang diistimewakan.
Semua harus berdiri dan berjalan. Maka, mari kita ubah paradigma: dari berebut kursi menjadi berebut pengabdian. Dari saling menyalahkan menjadi saling memperbaiki.
Dari duduk nyaman menjadi berdiri tegak dan berjalan bersama.
Selamat pagi. Mari bersiap-siap. Berdiri dan berjalan lagi.












