
Di tengah gempuran proyek-proyek pembangunan yang menjanjikan angka miliar dan triliun, suara Yustina Ogoney bergema sebagai pengingat: hutan bukan sekadar lahan kosong yang menunggu untuk ditanami sawit.
Hutan adalah napas terakhir. Hutan adalah ibu, rumah, bank, dan perpustakaan hidup. Hutan adalah warisan budaya yang tak tergantikan.
“Merusak hutan sama dengan menghina leluhur. Hutan adalah identitas budaya,” tegas Ogoney, Kepala Distrik Merdey, Teluk Bintuni, Papua Barat.
Ogoney menolak keras pengalihfungsian hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya ruang hidup, tetapi juga sumber pangan, penghidupan, dan spiritualitas. Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang ditebang—identitas pun ikut lenyap.
“Lebih baik masyarakat adat kelola hutan sendiri. Walau hasilnya hanya seribu dua ribu, tapi berkelanjutan. Daripada tergiur miliar, lalu habis dalam sebulan,” ujarnya.
Ogoney mengusulkan pendekatan yang lebih bijak: penguatan pangan lokal berbasis hutan. Sagu, buah merah, pala, pinang—semua adalah kekayaan yang tumbuh dari tanah adat.
Empat marga Suku Moskona bahkan telah membentuk Agromos, wadah pemasaran hasil hutan yang didukung oleh Samdhana Institute dan Transformer Plus Indonesia.
Inisiatif ini bukan sekadar bisnis, tapi model pengelolaan hutan lestari yang menjamin keberlanjutan ekonomi dan budaya.
Ogoney menyerukan agar pemerintah membatasi eksploitasi sumber daya alam hanya pada yang ada di “perut bumi”, dan menyerahkan pengelolaan hutan kepada masyarakat adat.
Ia juga menantang Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk tidak membuka lahan baru, melainkan memperkuat pangan lokal.
“Jangan terlalu fokus pada izin sawit dan penebangan hutan. Cukup lah. Dukung masyarakat adat dari segi anggaran, pelatihan, rumah produksi, pupuk,” tegasnya.
Dalam pengakuannya sebagai ASN, Ogoney menyentuh sisi paling manusiawi: bahwa di tengah jabatan dan sistem,
Ia tetap bergantung pada kebun ibunya. Ia sadar, saat pensiun nanti, satu-satunya harapan adalah kembali ke hutan.
“Saya punya rekening selalu kosong. Tapi tempat makan saya, pasti pulang ke mama punya kebun.”
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan, tapi refleksi mendalam tentang ketergantungan kita pada alam.
Hutan bukan untuk dijual, tapi untuk diwariskan. Menjaga hutan berarti menjaga masa depan anak cucu.












