oleh : Akhlanudin (Pimpinan Umum Media Daulat Rakyat)
Di penghujung abad ke-20, ketika semangat reformasi bergema di seluruh pelosok negeri, masyarakat Bangka dan Belitung menyuarakan satu harapan besar: menjadi provinsi mandiri.
Harapan ini bukan sekadar ambisi administratif, melainkan cerminan identitas, aspirasi pembangunan, dan keinginan untuk mengelola potensi daerah secara lebih adil dan berkelanjutan.
Di tengah gelombang aspirasi itu, muncul sosok Yusril Ihza Mahendra—putra asli Belitung, ahli hukum tata negara, dan tokoh nasional yang kelak menjadi jembatan antara suara rakyat dan kebijakan negara.
Akar Keterlibatan: Dari Belitung ke Senayan
Yusril bukan hanya memahami denyut nadi masyarakat Bangka Belitung, tetapi juga memiliki posisi strategis di pemerintahan pusat. Ketika menjabat sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan pada era Presiden Abdurrahman Wahid, ia memanfaatkan kapasitasnya untuk memperjuangkan pembentukan provinsi baru.
Ia menyusun argumen hukum, mengadvokasi di parlemen, dan merancang kerangka legislasi yang kelak menjadi dasar hukum lahirnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000: Titik Balik Sejarah
Pada 4 Desember 2000, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 resmi disahkan, menetapkan Bangka Belitung sebagai provinsi ke-31 di Indonesia.
Momen ini menjadi tonggak sejarah, hasil dari perjuangan panjang masyarakat lokal, dukungan tokoh-tokoh daerah, dan peran krusial Yusril dalam merumuskan dan mengawal proses legislasi di tingkat nasional.
Mengangkat Martabat Daerah
Yusril tidak berhenti pada aspek hukum. Ia aktif mendorong pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi di Babel.
Ia menjadi tokoh yang mengangkat martabat daerah di panggung nasional, memperjuangkan agar Babel tidak hanya dikenal sebagai penghasil timah, tetapi juga sebagai wilayah dengan kekayaan budaya, pariwisata, dan sumber daya manusia yang potensial.
Warisan dan Inspirasi
Hingga kini, Yusril tetap menjadi figur penting dalam dinamika politik dan pembangunan Babel.
Ia mendukung regenerasi kepemimpinan daerah, termasuk melalui putranya, Yuri Kemal Fadlullah, dan menjalin kolaborasi dengan tokoh-tokoh seperti Erzaldi Rosman.
Warisan perjuangannya menjadi inspirasi bagi generasi muda Babel untuk terus memperjuangkan kemajuan daerah dengan semangat inklusif dan berkeadilan.












