
Puisi Edy Sukardi “Langkah-langkah kecil” bukan sekadar bait, tapi seruan moral dan gerakan kultural Muhammadiyah yang membumi.
Puisi “Langkah-langkah kecil” karya Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd., yang dibacakan dalam arena LPCR Award di Banjarmasin, adalah refleksi puitik yang menyatukan semangat dakwah, etos kerja kolektif, dan dinamika kaderisasi dalam tubuh Muhammadiyah.
Bait-baitnya sederhana, namun sarat makna: “Langkah-langkah kecil kadang bisa menggerakan dan menghidupkan”—sebuah pengingat bahwa perubahan besar kerap lahir dari gerakan akar rumput yang konsisten dan bernyawa.
Puisi ini tidak hanya menyuarakan semangat fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), tetapi juga mengajak untuk membumikan nilai-nilai musyawarah, inovasi, dan keberanian dalam membangun ranting-ranting baru. “Mari bicarakan ranting.
Ranting itu penting, harus dibuat melenting”—baris ini menjadi kritik halus sekaligus motivasi agar struktur organisasi tidak stagnan, melainkan terus tumbuh dan menggeliat.
Yang menarik, Edy Sukardi tidak memposisikan puisi sebagai ornamen seremoni, melainkan sebagai alat advokasi nilai.
Ia menyisipkan ajakan konkret: membangunkan yang tidur, menggerakkan yang diam, mendirikan yang baru. Ini bukan sekadar metafora, tapi strategi kultural untuk membangun kesadaran kolektif di tengah tantangan zaman.
Sebagai rektor dan sastrawan, Edy Sukardi berhasil menjembatani dunia akademik, gerakan sosial, dan ekspresi sastra. Puisinya menjadi ruang kontemplasi sekaligus panggilan aksi.
Dalam konteks Muhammadiyah yang kerap dituntut adaptif namun tetap berakar, puisi ini menjadi semacam “kompas moral” yang mengingatkan bahwa setiap langkah kecil, jika dilakukan bersama dan dengan niat yang lurus, bisa menjadi energi perubahan.
Saya merekomendasikan agar puisi semacam ini tidak berhenti di panggung seremoni. Ia perlu dibaca ulang di forum-forum kaderisasi, dijadikan bahan refleksi di rapat-rapat pimpinan, bahkan bisa diadaptasi dalam bentuk infografik atau video pendek untuk menyapa generasi muda Muhammadiyah yang lebih visual dan digital.
Dengan demikian, “Langkah-langkah kecil” bukan hanya puisi.bIa adalah narasi gerakan. Ia adalah etika kepemimpinan.
Ia adalah denyut nadi dakwah yang terus mencari bentuk paling membumi dan membangkitkan.
Identitas Karya
- Judul: Langkah-langkah Kecil
- Penulis: Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd.
- Momentum: Dibacakan dalam LPCR Award Muhammadiyah, Banjarmasin, 2025
Tema dan Makna
Puisi ini mengangkat semangat gerakan akar rumput dalam organisasi Muhammadiyah. Dengan gaya tutur yang ringan namun reflektif, Edy Sukardi menekankan pentingnya langkah-langkah kecil yang konsisten dan bernyawa dalam membangun perubahan sosial dan spiritual.
Baris seperti “Langkah-langkah kecil kadang bisa menggerakkan dan menghidupkan” menjadi mantra etis yang mengajak pembaca untuk tidak meremehkan inisiatif sederhana.
Gaya dan Struktur
- Bahasa: Lugas, komunikatif, dan mudah dicerna
- Struktur: Berbentuk naratif dan ajakan, bukan kontemplatif semata
- Nada: Optimis, membangkitkan, dan penuh semangat kolektif
Puisi ini tidak bermain dalam metafora yang rumit, melainkan memilih diksi yang langsung dan mengena. Hal ini menjadikannya cocok sebagai alat komunikasi internal organisasi, bukan sekadar karya sastra.
Fungsi Sosial dan Kultural
Puisi ini berfungsi sebagai:
- Motivator kaderisasi: Mengajak untuk membangun ranting baru dan menghidupkan yang lama
- Seruan etis: Menyentil diamnya struktur dan mengajak bergerak
- Medium advokasi: Menyampaikan nilai-nilai dakwah dalam bentuk estetis
Catatan Kritis
Keberanian Edy Sukardi menyisipkan kritik internal melalui puisi patut diapresiasi.
Namun, puisi ini akan lebih kuat jika disertai visualisasi atau adaptasi multimedia agar menjangkau generasi muda yang lebih visual dan digital.
Editor : Akhlanudin








