Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Makna Intensitas di Balik “Sebentar Saja”: Refleksi Cinta dan Komitmen Organisasi
Img 20251115 070520

Makna Intensitas di Balik “Sebentar Saja”: Refleksi Cinta dan Komitmen Organisasi

Img 20251115 070610

Puisi “Sebentar Saja” Edy Sukardi adalah karya yang padat makna dan mencerminkan jiwa seorang aktivis sekaligus sastrawan. Kekuatan utama puisi ini terletak pada kemampuannya menggabungkan tema personal yang hangat dengan komitmen spiritual dan organisasi yang kuat.

Keintiman dalam Keterbatasan Waktu:
Pengulangan frasa “sebentar saja” menjadi motif sentral. Ini bukan sekadar tentang singkatnya waktu, tetapi tentang intensitas dan nilai dari pertemuan yang terfokus.

Penulis menekankan bahwa waktu yang singkat sekalipun cukup untuk “membangun sendi-sendi cinta,” “menumpahkan rindu,” dan “menyampaikan kabar gembira.” Hal ini menciptakan kontras yang indah antara kerinduan yang mendalam dengan kepraktisan hidup yang membatasi waktu.

Transisi dari Personal ke Kolektif/Spiritual:
Awal puisi terasa seperti seruan cinta personal, menggunakan citra perjalanan jauh (udara, laut, darat) untuk melambangkan usaha keras demi sebuah pertemuan.

Namun, puisi ini bertransisi secara mulus ke ranah yang lebih luas, membahas pertemuan para “penggerak” dan komitmen untuk “merajut lagi benang-benang cinta” yang diikat dengan semangat akidah, akhlakul karimah, ukhuwah, dan jihad.

Transisi ini menunjukkan bahwa bagi penyair, cinta tidak hanya terbatas pada hubungan antarindividu, tetapi meluas pada kecintaan terhadap perjuangan dan organisasi.

Gaya Bahasa dan Penutup yang Realistis:
Gaya bahasa yang lugas dan mudah dicerna membuat pesan puisi ini sampai dengan jelas.

Puncaknya, penutup puisi yang menyebutkan alasan praktis di balik kata “sebentar saja” yaitu: “Aku ada meeting / membahas keperluan ranting” (tertulis di Al Jihad, Banjarmasin, 14 Nopember 2025).

Penutup yang ‘tiba-tiba’ dan realistik ini berfungsi sebagai “punchline” yang kuat, menegaskan latar belakang penyair sebagai tokoh yang sibuk dalam kegiatan akademis dan organisasi (seperti yang dicantumkan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya), yang harus menyeimbangkan antara idealisme puitis/spiritual dengan tanggung jawab duniawi/organisasi.

Puisi “Sebentar Saja” adalah cerminan indah dari pribadi yang jiwanya terbagi antara kerinduan puitis dan komitmen organisasional. Ini mengajarkan bahwa kualitas sebuah momen lebih penting daripada kuantitasnya, dan bahwa semua bentuk perjuangan—baik cinta maupun jihad—memerlukan fokus dan dedikasi, meskipun hanya “sebentar saja.”

Puisi “Sebentar Saja” karya Edy Sukardi menyingkap kerinduan yang sederhana namun sarat makna: pertemuan singkat yang dijadikan momentum untuk meneguhkan cinta, ukhuwah, dan semangat perjuangan.

Identitas Karya

  • Judul puisi: Sebentar Saja
  • Penulis: Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd.
  • Tanggal: 14 November 2025
  • Sumber: Media Daulat Rakyat
  • Isi dan Tema
    Puisi ini berangkat dari gagasan pertemuan singkat yang tetap bernilai besar. Walau hanya sebentar, kehadiran seseorang mampu:
  • Membangun sendi cinta dan menumpahkan rindu.
  • Menguatkan ukhuwah melalui kebersamaan para penggerak.
  • Meneguhkan akidah dan akhlak, serta menyemai semangat jihad.

Tema utamanya adalah nilai kebersamaan dalam keterbatasan waktu. Edy Sukardi menekankan bahwa sebentar pun cukup untuk menyalakan api cinta, inspirasi, dan perjuangan.

-Gaya Bahasa

  • Repetisi: Kata “sebentar saja” diulang untuk menegaskan makna keterbatasan waktu.
  • Metafora perjalanan: “terbang di udara, berlayar di laut, menyusuri jalan darat” melukiskan usaha panjang demi sebuah pertemuan.
  • Simbol pendaki bukit: Menggambarkan singgah sejenak di ketinggian, lalu turun kembali—sebuah analogi tentang pertemuan yang sementara namun berkesan.

Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, namun tetap menyimpan kekuatan simbolik.

Konteks Sosial dan Spiritual

Puisi ini tidak hanya bicara tentang cinta personal, tetapi juga cinta kolektif:

  • Pertemuan para penggerak yang saling menguatkan.
  • Semangat jihad yang dihubungkan dengan akidah, akhlak, ilmu, dan pembiayaan.
  • Kehadiran singkat menjadi simbol komitmen terhadap perjuangan bersama.

Dengan demikian, puisi ini berfungsi sebagai refleksi spiritual sekaligus motivasi sosial.

Nilai dan Pesan

  • Waktu singkat tetap berharga bila diisi dengan cinta, ukhuwah, dan inspirasi.
  • Pertemuan sederhana bisa melahirkan kekuatan besar untuk perjuangan.
  • Keterbatasan bukan penghalang, melainkan momentum untuk merajut kembali benang cinta dan semangat.

Kesimpulan

Puisi Sebentar Saja adalah renungan tentang makna pertemuan singkat yang melampaui batas waktu. Edy Sukardi berhasil menyampaikan pesan bahwa sebentar pun cukup untuk meneguhkan cinta, memperkuat iman, dan menyemai semangat perjuangan. Karya ini sederhana, namun menyimpan kedalaman spiritual dan sosial yang relevan bagi para pembaca.

Editor : Akhlanudin

Image
Image

Artikel Terkait

Inshot 20251205 214943024

Bupati Belitung Teken MoU Pengembangan…

Intisari Berita JAKARTA,— Komitmen Pemerintah Kabupaten…

Inshot 20251205 200213879

“Kalau Tidak Ada Makanan, Kirimkan…

intisari Berita Delapan hari telah berlalu…

Inshot 20251205 190703601

Wapres Gibran Kunjungi Tapanuli Selatan,…

Intisari Berita Wakil Presiden RI, Gibran…

Makna Intensitas di Balik “Sebentar Saja”: Refleksi Cinta dan Komitmen Organisasi – Media Daulat Rakyat