Intisari Berita
- Puluhan alat riset nuklir yang digunakan oleh peneliti BRIN diangkut oleh perusahaan ekspedisi pada 28 Agustus 2025.
- Pemindahan alat-alat nuklir yang sedang digunakan tidak boleh dilakukan sembarangan karena berisiko kontaminasi bahan radioaktif.
- Tiga reaktor nuklir milik BRIN tidak beroperasi secara normal, yang berpotensi menimbulkan masalah keselamatan.
- Para peneliti bahan bakar nuklir terkejut saat petugas ekspedisi menyodorkan daftar pengambilalihan alat-alat riset mereka di Gedung 20 Instalasi Radiometalurgi.
Serpong, Tangerang Selatan – Sebuah insiden yang terjadi pada 28 Agustus 2025, di Gedung 20 Instalasi Radiometalurgi, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, telah memicu kekhawatiran serius mengenai manajemen fasilitas nuklir di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Puluhan alat riset nuklir yang tengah digunakan oleh para peneliti di bidang bahan bakar nuklir tiba-tiba akan dipindahkan oleh perusahaan ekspedisi.
“Kami terkejut ketika petugas ekspedisi datang dengan daftar pengambilalihan alat-alat riset,” ungkap seorang peneliti yang enggan disebutkan namanya. Kekhawatiran utama adalah bahwa alat-alat tersebut telah bersentuhan dengan bahan radioaktif, sehingga pemindahannya tidak boleh dilakukan sembarangan.
Menurut sumber internal, pemindahan ini dilakukan tanpa pemberitahuan dan koordinasi yang memadai dengan para peneliti yang bertanggung jawab atas alat-alat tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang protokol keselamatan yang diterapkan oleh BRIN dalam pengelolaan material radioaktif.
Selain masalah pemindahan alat riset, laporan ini juga menyoroti kondisi tiga reaktor nuklir milik BRIN yang tidak beroperasi secara normal. Kondisi “hidup segan mati tak mau” dari reaktor-reaktor ini berpotensi menimbulkan masalah keselamatan yang serius, serta menghambat penelitian dan pengembangan di bidang nuklir.
“Kondisi reaktor ini sangat memprihatinkan,” kata seorang ahli nuklir yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan. “Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa menjadi bencana.”
Pihak BRIN belum memberikan komentar resmi terkait masalah ini. Namun, insiden ini telah memicu seruan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap manajemen fasilitas nuklir di BRIN, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan material radioaktif.
Laporan ini juga menyoroti pentingnya pengawasan yang ketat terhadap fasilitas nuklir, serta perlunya investasi dalam pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang nuklir.
Dengan meningkatnya kebutuhan energi di masa depan, energi nuklir dapat menjadi salah satu solusi, tetapi hanya jika dikelola dengan aman dan bertanggung jawab.












