intisari Berita
- Delapan hari pascabencana longsor dan banjir, warga Kampung Pantan Nangka di Aceh Tengah terisolir total tanpa bantuan logistik apapun, stok makanan menipis.
- Mereka melakukan upaya mandiri (membuat landasan pacu, jalur darurat, menyumbangkan BBM) namun helikopter yang diduga membawa bantuan tidak pernah turun.
- Kelompok rentan (orang tua, ibu hamil) menderita parah—beberapa harus berjalan puluhan kilometer untuk kebutuhan dasar. Rasa putus asa mencapai puncak, diungkapkan oleh warga Aramiko dengan kalimat memilukan: “Kalau tidak ada makanan, kirimkan kami kain kafan saja.”
Delapan hari telah berlalu sejak bencana longsor dan banjir bandang menimpa Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Selama waktu itu, tidak ada satupun bantuan logistik—mulai dari makanan, air bersih, hingga obat-obatan—yang tiba dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan. Wilayah yang dulu ramai kini terkurung oleh reruntuhan tanah di satu sisi dan genangan air yang masih menggenangi lahan di sisi lain, membuat akses ke luar terputus total.
Stok makanan yang dibawa warga saat awal bencana semakin menipis; sebagian besar hanya tersisa sisa beras, umbi-umbian yang ditemukan di sekitar hunian, dan air yang harus diambil dari sungai yang keruh—yang menimbulkan risiko penyakit. Rasa putus asa mulai menyebar di tengah masyarakat yang terjebak tanpa harapan bantuan segera.
Meskipun terisolir dan tertekan, warga tidak menyerah begitu saja. Mereka mengadakan rapat pagi setiap hari di halaman masjid untuk merencanakan upaya mandiri.
Beberapa orang laki-laki yang kuat bekerja bersama-sama selama berjam-jam untuk membangun landasan pacu darurat di sebidang tanah yang agak datar, menggunakan batu bata, pasir, dan kayu yang disalurkan dari reruntuhan rumah.
Mereka juga secara swadaya menyumbangkan BBM dari tangki kendaraan pribadi yang masih tersisa bahan bakar, untuk menghidupkan genset satu-satunya yang bisa memberikan cahaya dan mengisi baterai ponsel—satu-satunya sarana untuk mencoba menghubungi luar.
Selain itu, mereka telah menciptakan jalur darurat roda dua di tengah titik longsor yang paling landai, yang hanya cukup dilewati sepeda motor dengan hati-hati, untuk membawa barang-barang esensial yang bisa didapatkan dari daerah terdekat yang belum tergenang.
Ironisnya, di tengah kesuksesan mereka membangun landasan pacu, warga sering melihat helikopter berwarna hijau dan putih—yang diduga membawa bantuan kemanusiaan—melintasi langit mereka beberapa kali sehari. Mereka berteriak, menggoyangkan kain berwarna terang, dan membakar lilin untuk menarik perhatian awak helikopter.
Namun, tidak satu pun helikopter tersebut yang turun. Beberapa warga bahkan menangis melihat helikopter itu terbang jauh tanpa mengacuhkan usahanya, merasa diabaikan dan terlupakan di tengah penderitaan.
Aramiko, seorang pria berusia 35 tahun yang bekerja sebagai petani sebelum bencana, mengungkapkan kondisi miris yang dialami kelompok rentan saat diwawancarai pada Kamis (4/12/2025). Matanya memerah dan suaranya terengah-engah ketika berbicara:
“Banyak orang tua di sini yang tidak kuat berdiri lama, tapi terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalur yang licin dan bergelombang ke Aceh Tengah hanya untuk mendapatkan susu dan obat. Beberapa dari mereka pingsan di jalan karena lelah dan kurang gizi. Banyak juga ibu hamil yang nasibnya tidak jelas—tidak ada bidan atau dokter yang bisa memeriksanya, dan mereka takut melahirkan di tengah kondisi seperti ini.”
Akses utama ke pusat kota yang terputus total membuat situasi semakin parah. Jalan raya yang dulu digunakan untuk mengangkut barang dan orang sekarang tertutup oleh reruntuhan tanah seukuran rumah, dan genangan air di beberapa tempat masih dalam setinggi pinggang.
Jalur darurat roda dua yang mereka buat juga tidak selalu aman—seringkali ada batu yang bergeser atau tanah yang licin, membuat perjalanan penuh risiko.
Tingkat keputusasaan di kalangan warga telah mencapai puncaknya. Setelah berhari-hari menunggu dan berusaha tanpa hasil, harapan mereka mulai pudar.
Aramiko, yang telah kehilangan rumahnya karena longsor, menuturkan kalimat yang memilukan yang menggambarkan rasa putus asa yang mendalam terhadap kondisi mereka di tanah Linge. Dengan suara yang lirih dan penuh kesedihan, dia berkata:
“Sepertinya sekarang kami tidak butuh bantuan makanan lagi. Kirim kami kain kafan saja,” seolah mengakui bahwa kematian telah menjadi kemungkinan yang lebih dekat daripada harapan untuk bertahan.












