Intisari Berita
- Ketua LAM Belitung Achmad Hamzah menegaskan peran strategis masyarakat adat dalam menjaga kelestarian alam dan budaya Belitung.
- Pernyataan disampaikan dalam Sarasehan Belitong UNESCO Global Geopark di Rumah Adat Belitung, Senin 12 Januari 2026.
- Acara ditandai dengan penandatanganan MoU antara BP Geopark Belitung dan LAM Belitung.
- Achmad mengapresiasi keterlibatan masyarakat adat serta menekankan pentingnya sinergi pemerintah, pengelola geopark, dan masyarakat adat.
- Kearifan lokal, seperti hutan adat dan hutan “pembuangan” di Desa Sungai Samak, disebut sebagai mekanisme tradisional menjaga keseimbangan alam.
- Sarasehan dihadiri Wakil Bupati Belitung, Ketua Dekranasda, Sekda sekaligus Ketua Umum BP Geopark, serta tokoh adat dan budayawan.
Tanjungpandan Belitung – Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Belitung, Achmad Hamzah, menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian alam dan budaya Belitung, khususnya dalam mendukung keberlanjutan Belitong UNESCO Global Geopark.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sarasehan Belitong UNESCO Global Geopark bersama LAM Belitung yang berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026, di Rumah Adat Belitung, Jalan A. Yani, Kelurahan Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan. Acara ini sekaligus menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Badan Pengelola Geopark Belitung dan LAM Belitung, yang menandai komitmen bersama dalam menjaga bumi Belitung.
Sinergi untuk Keberlanjutan
Dalam sambutannya, Achmad Hamzah menyampaikan apresiasi kepada BP Geopark Belitung atas keterlibatan masyarakat adat dalam upaya pelestarian.
“Kami mengucapkan terima kasih karena telah diajak bersama-sama menjaga kelestarian bumi Belitung. Semoga alam dan budaya Belitung tetap lestari,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan menjaga geopark tidak hanya bergantung pada pemerintah atau pengelola, tetapi juga pada masyarakat adat yang memiliki pengetahuan lokal dan tradisi menjaga alam. Sinergi ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan geopark sebagai warisan dunia.
Kearifan Lokal sebagai Pilar Konservasi
Achmad menegaskan bahwa masyarakat adat berperan ganda: sebagai penjaga nilai budaya sekaligus pelindung lingkungan hidup. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun menjadi mekanisme alami dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Di Belitung, terdapat hutan-hutan adat yang sejak dahulu dijaga sebagai bagian dari sistem kepercayaan. Hutan tersebut tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga menjadi bentuk mitigasi bencana tradisional.
Ia mencontohkan hutan “pembuangan” di Desa Sungai Samak, Kecamatan Badau. Berdasarkan kepercayaan adat, hutan itu diyakini sebagai tempat pembuangan makhluk halus. Keyakinan tersebut membuat kawasan tetap terjaga, tidak dirusak, dan berfungsi sebagai benteng ekologis.
“Kearifan lokal seperti inilah yang sejak dulu telah menjaga alam Belitung. Ini harus dipahami dan dihargai sebagai bagian dari warisan leluhur,” tambahnya.
Kehadiran Tokoh Daerah
Sarasehan ini turut dihadiri Wakil Bupati Belitung Syamsir, Ketua Dekranasda sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Belitung Hastari Wardianti Djoni Alamsyah, Sekretaris Daerah Belitung sekaligus Ketua Umum BP Geopark Belitung Marzuki, serta sejumlah pejabat daerah, tokoh adat, budayawan, dukun kampong, dan pengurus LAM Belitung.
Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap upaya pelestarian alam dan budaya. Momentum ini juga memperkuat posisi Belitung sebagai salah satu daerah yang mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan pengelola geopark.
Makna Strategis bagi Belitung
Sarasehan dan MoU ini tidak hanya simbolis, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat peran masyarakat adat di tengah arus modernisasi. Dengan pengakuan UNESCO terhadap Belitong Global Geopark, Belitung memiliki tanggung jawab besar menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian.
Masyarakat adat, dengan kearifan lokalnya, menjadi garda terdepan dalam memastikan bahwa alam dan budaya Belitung tetap lestari, sekaligus memberi identitas khas yang membedakan Belitung di mata dunia.












