Intisari Berita
- Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, mengapresiasi Program SOLUSI yang dijalankan Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI) dalam upaya rehabilitasi lahan kritis di Desa Lintang. Program ini dinilai sejalan dengan komitmen Pemkab Beltim menjaga kelestarian lingkungan, memulihkan ekosistem, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat
- Program SOLUSI akan berlangsung hingga 2028 dengan tahapan penguatan data, kelembagaan, dan rencana bisnis menuju kemandirian. Tiga desa di Beltim—Simpang Tiga, Lintang, dan Gantung—ditetapkan sebagai pilot project berbasis DAS Lenggang dan diharapkan menjadi model percontohan nasional dalam tata ruang darat dan laut.
- Di Desa Lintang, fokus program diarahkan pada pengembangan keanekaragaman hayati, termasuk pembangunan Arboretum berbasis tanaman rempah di Tebat Rasau yang berfungsi sebagai pusat konservasi, penelitian, dan edukasi lingkungan.
Simpang Renggiang, Beltim – Wakil Bupati Belitung Timur (Beltim), Khairil Anwar, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI) atas pelaksanaan Program SOLUSI di Pulau Belitung. Hal ini disampaikan saat kegiatan penanaman rehabilitasi lahan kritis di Tebat Rasau, Desa Lintang, Kamis (29/1/2026).
Dalam sambutannya, Khairil menegaskan bahwa Program SOLUSI sejalan dengan komitmen Pemkab Beltim menjaga kelestarian lingkungan dan memulihkan lahan kritis. Menurutnya, rehabilitasi lahan berperan penting dalam menjaga ekosistem, ketersediaan air, mencegah bencana, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Peran TCI bukan hanya pada rehabilitasi lahan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama dan investasi jangka panjang,” ujarnya.
Khairil menambahkan, penanaman pohon harus diimbangi dengan pengawasan agar hasilnya berkelanjutan. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti di satu momentum, melainkan terus dilakukan setiap tahun.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan TCI, perangkat daerah, pemerintah desa, dan masyarakat setempat dengan penanaman berbagai jenis tanaman untuk mendukung pemulihan lahan kritis.
Tiga Desa Beltim Jadi Pilot Project Nasional
Ketua Yayasan Tarsius Center Indonesia, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa Program SOLUSI digagas untuk mengatasi tumpang tindih tata ruang darat dan laut. Program ini berlangsung hingga 2028 dengan tahapan penguatan data, kelembagaan, hingga rencana bisnis menuju kemandirian.
Di Belitung Timur, tiga desa dipilih sebagai proyek percontohan berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) Lenggang: Desa Simpang Tiga (hulu), Desa Lintang (tengah), dan Desa Gantung (hilir). Ketiganya diharapkan menjadi model nasional dalam perencanaan kebijakan tata ruang darat dan laut.
“Setiap desa memiliki intervensi berbeda sesuai potensi dan tantangan masing-masing. Di Desa Lintang, fokusnya pada pengembangan keanekaragaman hayati. Di Tebat Rasau sudah dibuat Arboretum berbasis tanaman rempah, yang bisa menjadi pusat penelitian dan edukasi,” jelas Budi.












