
MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 30 September 2026 – Di balik tragedi politik 1965, ada kisah personal keluarga tokoh-tokoh yang terlibat. Salah satunya adalah Ibarruri Putri Alam, putri sulung Dipa Nusantara (DN) Aidit, Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia (PKI) terakhir.
Ibarruri, yang akrab disapa Iba, harus menjalani hidup dalam pengasingan selama puluhan tahun sebelum akhirnya bisa kembali ke Indonesia.
Profil Singkat
Nama lengkapnya Ibarruri Putri Alam. Nama depannya diambil dari Dolores Ibarruri, tokoh perempuan Partai Komunis Spanyol yang dikenal dengan julukan La Pasionaria. Ia adalah anak pertama DN Aidit.
Perjalanan Pendidikan dan Eksil
- Moskow, Uni Soviet: Pada masa kecilnya, Ibarruri bersekolah di Moskow di sekolah khusus untuk anak-anak petinggi partai komunis dari berbagai negara. Ia dikirim ke sana untuk pendidikan. Namun, ia disebut tidak betah karena secara ideologis ayahnya lebih dekat ke Beijing, sementara hubungan Soviet-China pada saat itu sedang memanas.
- China: Setelah peristiwa G30S 1965 dan kabar kematian ayahnya, Ibarruri pindah ke China. Di sana ia menempuh pendidikan kedokteran selama 3 tahun.
- Paris, Prancis: Ibarruri kemudian pindah dan menetap di Paris. Di Prancis, ia membangun karier profesional sebagai dokter dan hidup sebagai eksil politik. Status keluarganya sebagai keluarga Aidit membuatnya tidak mungkin kembali ke Indonesia selama masa Orde Baru.
Ia baru berani kembali menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 1999, setelah reformasi dan runtuhnya Orde Baru.
Kehidupan di Prancis dan Catatan Sejarah
Di Paris, Ibarruri menjalani kehidupan sebagai tenaga medis profesional, jauh dari bayang-bayang politik ayahnya di masa lalu.
Kisah hidupnya ia tuangkan dalam sebuah buku otobiografi yang terbit pada tahun 2015. Buku tersebut menceritakan pengalaman pahit sebagai anak seorang tokoh politik besar yang harus terpisah dari tanah air dan menjalani eksil panjang.
Kisah Ibarruri Putri Alam sering dilihat sebagai potret sisi kemanusiaan dari dampak peristiwa 1965 – bagaimana keluarga dari tokoh politik yang kalah dalam pergolakan sejarah harus menanggung konsekuensi berupa pengasingan dan stigma yang panjang.












