Yogyakarta – Tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Syarif Rahmat, meminta Universitas Gadjah Mada (UGM) mencabut ijazah milik Roy Suryo. Permintaan ini muncul setelah Roy Suryo meragukan keabsahan ijazah mantan Presiden Joko Widodo.
Kiai Syarif menilai pernyataan Roy Suryo bukan hanya menyerang pribadi Jokowi, tetapi juga mencoreng nama baik UGM sebagai institusi akademik. Ia menegaskan bahwa tindakan Roy merupakan bentuk tidak menghargai almamaternya sendiri.
“Roy Suryo telah melecehkan UGM yang memberinya gelar akademik. UGM sebaiknya mengambil sikap tegas agar martabat akademik tetap terjaga,” ujar Kiai Syarif dalam pernyataannya yang beredar luas di media sosial dan media daring, Jumat (16/5/2025).
Meski Joko Widodo tidak lagi menjabat sebagai presiden setelah digantikan oleh Prabowo Subianto pada Oktober 2024, Kiai Syarif menyatakan pembelaannya terhadap Jokowi merupakan bentuk penghormatan terhadap presiden sebelumnya dan upaya menjaga integritas institusi pendidikan tinggi.
Hingga kini, pihak Universitas Gadjah Mada belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait permintaan tersebut. Namun, isu ini telah memicu perdebatan publik, baik dari kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Sebagian mendukung langkah Kiai Syarif sebagai bentuk penjagaan terhadap reputasi UGM, sementara yang lain menganggap desakan itu sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat.
Roy Suryo sendiri belum memberikan tanggapan atas desakan pencabutan ijazah tersebut. Ia sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif mengkritisi legalitas dokumen pendidikan Presiden Jokowi, meski tuduhannya belum terbukti secara hukum.












