
Oleh : Akhlsnudin
Kota Manggar, ibu kota Kabupaten Belitung Timur, menyimpan kisah kompleks tentang transformasi lanskap dan pembagian ruang hidup masyarakatnya.
Dari permukiman sederhana di tepi Sungai Manggar pada awal abad ke-19, kota ini berkembang menjadi sentra produksi timah yang menggairahkan ekonomi kolonial Hindia Belanda — dan sekaligus menciptakan lapisan-lapisan pemukiman berdasarkan etnis dan kelas sosial.
Melalui hasil kajian arkeologi dan analisis peta lama dari tahun 1821 hingga 1942, ditemukan bahwa Manggar mengalami empat fase perkembangan kota:
- Fase Awal (1821): Permukiman kecil bernama Kreeah Lingang di tepi Sungai Manggar, dihuni masyarakat Melayu dan kelompok tambang Cina awal.
- Fase Pertumbuhan Tambang (1870–1890): Manggar menjadi kota tambang kolonial dengan fasilitas jalan dan trem yang menghubungkan tambang ke pusat kota.
- Fase Ekspansi Industri (1920–1940): Relokasi permukiman, modernisasi pelabuhan Lipat Kajang, pembangunan Bukit Samak sebagai hunian elit Eropa.
- Fase Surut (1942 dan setelahnya): Jepang menduduki Belitung, infrastruktur tambang dihancurkan, dan kota kehilangan fungsi industrialnya.
Segregasi Etnis: Ruang yang Terpilih dan Terasing
Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda sejak 1854 membagi penduduk dalam tiga kelas: Eropa di strata tertinggi, disusul Cina, dan terakhir Melayu. Di Manggar, klasifikasi ini tercermin secara kasat mata dalam pembagian ruang:
- Bukit Samak menjadi hunian pegawai tinggi Belanda, lengkap dengan rumah bergaya Indies dan Art Deco, gereja, sekolah, dan rumah sakit khusus.
- Lipat Kajang dihuni etnis Cina yang bergerak di perdagangan, ditandai dengan kelenteng, pasar, dan bioskop komunitas.
- Lalang dan sekitarnya menjadi kawasan permukiman masyarakat Melayu, yang meski berada di pinggir kota, tetap menunjukkan identitas kuat lewat rumah panggung dan masjid tua.

Nama-nama lama seperti Lo Pu Teew, Numpang Empat, dan Nipah Malang merekam jejak segregasi dan sejarah kuli tambang Cina yang bekerja di bawah kongsi. Istilah “numpang” merujuk pada unit kerja tambang dan menjadi penanda warisan budaya serta sosial di Manggar.
Dampak lingkungan pun tidak terhindarkan: abrasi di Pelabuhan Lipat Kajang menyebabkan mundurnya garis pantai hingga 70 meter, menghancurkan fondasi tangki minyak dan struktur dermaga yang pernah menopang aktivitas tambang skala besar.
Manggar tidak sekadar kota tua. Ia adalah palimpsest sosial, ekonomi, dan arkeologis — di mana jejak kapitalisme kolonial dan segregasi etnis terukir dalam tanah, bangunan, dan cerita rakyat.
Menelisik kota ini bukan hanya membaca masa lalu, melainkan memahami dinamika ruang dan kekuasaan yang membentuk masyarakat kita hari ini.
- Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – ,2018












