Intisari Berita
- 25 tahun perjalanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menekankan bahwa pembangunan fisik yang telah dicapai harus diimbangi dengan pembentukan identitas dan jiwa kolektif.
- Bangka Belitung, yang lahir dari sejarah tambang, migrasi, dan pluralitas, menghadapi tantangan dalam merumuskan identitasnya.
- Perlunya pemimpin yang tidak hanya teknokratis tetapi juga mampu menafsirkan zaman dan merumuskan arah yang berpihak pada rakyat. Filosofi “Serumpun Sebalai” harus diimplementasikan dengan menata ulang prioritas pada pendidikan yang membumi, pariwisata yang lestari, dan ekonomi yang berpihak pada warga lokal
- 25 tahun dengan perenungan dan aksi nyata untuk menentukan masa depan Bangka Belitung
Oleh : Akhlsnudin
Pemimpin Umum Media Daulat Rakyat
Dua puluh lima tahun sudah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdiri. Seperempat abad bukan sekadar angka, melainkan cermin perjalanan panjang: dari euforia pemekaran hingga kegelisahan identitas. Kini, saatnya kita bertanya: apakah kita hanya membangun jalan dan gedung, atau sedang membentuk jiwa dan arah?
Dari Infrastruktur ke Struktur Jiwa
Sejak diresmikan pada 21 November 2000, Babel telah mencatat banyak capaian fisik: bandara internasional, jalan lintas, kawasan wisata, dan pertumbuhan ekonomi yang sempat melesat. Namun, pembangunan jiwa kolektif—kesadaran akan siapa kita dan ke mana hendak melangkah—masih tertatih.
Bangka Belitung bukan Yogyakarta yang berakar pada monarki, bukan pula Bali yang bertumpu pada spiritualitas agraris. Kita lahir dari sejarah tambang, migrasi, dan pluralitas. Maka, identitas kita bukan warisan, tapi tantangan: harus dirumuskan, dirawat, dan diperjuangkan.
“DNA Babel” dan Krisis Kepemimpinan
Budayawan Bambang Haryo Suseno menyebut Bangka sebagai wilayah dengan “DNA tambang”—keras, pragmatis, dan cepat berubah. Ini menjelaskan mengapa kepemimpinan di Babel kerap berganti arah, kehilangan kesinambungan, dan minim narasi besar.
Kita butuh pemimpin yang bukan sekadar teknokrat, tapi penafsir zaman. Yang mampu membaca akar budaya, mendengar suara nelayan, petani, dan perajin, lalu merumuskan arah yang berpihak pada rakyat, bukan hanya investor.
Serumpun Sebalai: Bukan Slogan, Tapi Jalan
Filosofi “Serumpun Sebalai” bukan sekadar ornamen sambutan. Ia adalah tawaran etis: bahwa Babel dibangun atas dasar kesetaraan, musyawarah, dan gotong royong. Sayangnya, dalam praktik, kita sering terjebak dalam ego sektoral, konflik elite, dan pembangunan yang tak menyentuh akar.
Kini, saatnya kembali ke semangat itu. Bukan dengan romantisme, tapi dengan keberanian menata ulang prioritas: pendidikan yang membumi, pariwisata yang lestari, dan ekonomi yang berpihak pada warga pesisir dan pedalaman.
Menutup 25 Tahun, Membuka Babak Baru
Diskusi publik yang digelar Komite Reformasi Belitung (Koruban) baru-baru ini menegaskan keresahan kolektif: Babel butuh arah baru. Bukan sekadar pembangunan fisik, tapi pembangunan makna. Bukan sekadar siapa yang memimpin, tapi bagaimana kita dipimpin.
Saya percaya: perubahan tak lahir dari atas semata. Ia tumbuh dari suara warga, dari berita yang jujur, dari opini yang menggugah. Maka mari kita rayakan 25 tahun ini bukan dengan pesta, tapi dengan perenungan. Karena hanya dengan mengenali diri, kita bisa menentukan masa depan.












