Intisari Berita
- Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menegaskan kesiapan naik kelas sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia.
- Potensi utama: alam (pantai, danau, bukit granit, bawah laut), budaya (musik dambus, dul muluk, tarian tradisional), UMKM (kopiah resam, batik cual, kerajinan pewter), kuliner (lempah kuning, otak-otak, martabak), serta sejarah (Wisma Ranggam, Bukit Menumbing).
- Identitas sosial: nilai Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong sebagai simbol persaudaraan Melayu–Tionghoa.
- Strategi pengembangan: Raperda Ripparprov 2025–2045, peningkatan fasilitas, dukungan pendanaan, pelatihan SDM, diplomasi aviasi, promosi besar-besaran, dan kemitraan global.
- Fokus Babel usia 25 tahun: transformasi ekonomi nontambang dengan pariwisata sebagai lokomotif baru.
- Target: peningkatan kunjungan wisatawan, tumbuhnya UMKM, dan ekosistem pariwisata yang kompetitif.
Pangkalpinang – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menegaskan kesiapan naik kelas sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Beragam potensi alam, budaya, hingga ekonomi kreatif dinilai komprehensif untuk bersaing di level nasional maupun internasional.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudkepora) Babel, Widya Kumala Sari, menyebutkan Babel memiliki kekayaan alam memukau, mulai dari garis pantai panjang, danau eksotis, bukit granit, hingga pesona bawah laut. Belitong UNESCO Global Geopark dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang menjadi ikon penting yang memperkuat identitas wisata geologi dan bahari.
“Dari sisi budaya, Babel punya warisan yang unik, seperti musik dambus, seni dul muluk, dan berbagai tarian tradisional. UMKM dan ekonomi kreatif juga mendorong daya tarik wisata lewat kopiah resam, batik cual, hingga kerajinan pewter. Kuliner lempah kuning, otak-otak, hingga martabak menjadi pelengkap pengalaman wisatawan,” ujar Widya, Jumat (21/11/2025).
Selain itu, jejak sejarah nasional seperti Wisma Ranggam dan Bukit Menumbing turut memperkaya atraksi wisata. Semua ini dibalut karakter masyarakat Babel yang menjunjung nilai Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong, simbol persaudaraan Melayu-Tionghoa yang menjadi identitas sosial daerah.
Lokasi Babel yang strategis dan dekat dengan Jakarta juga menjadi modal penting untuk memperluas pasar wisatawan. Untuk mempercepat pengembangan pariwisata inklusif dan berkelanjutan, Babel tengah menjalankan sejumlah strategi kunci, di antaranya:
- Penyusunan Raperda Ripparprov 2025–2045
- Peningkatan fasilitas destinasi melalui kolaborasi masyarakat, swasta, dan pemerintah
- Optimalisasi dukungan pendanaan dari pusat, BUMN, dan industri pariwisata
- Pelatihan intensif untuk meningkatkan kompetensi SDM pariwisata
- Diplomasi aviasi guna membuka lebih banyak rute penerbangan
- Promosi besar-besaran di berbagai platform
- Penguatan kemitraan dengan pemerintah dan komunitas global
“Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan pengembangan pariwisata tidak hanya mempercantik destinasi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang merata,” tambahnya.
Memasuki usia ke-25 sebagai provinsi, Babel kini fokus pada transformasi ekonomi nontambang. Pariwisata dipilih sebagai lokomotif baru untuk membuka peluang usaha, memperkuat ekonomi kreatif, dan menumbuhkan lebih banyak desa wisata.
“Targetnya jelas, yakni peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tumbuhnya pelaku UMKM, dan terciptanya ekosistem pariwisata yang semakin kompetitif,” tegas Widya.












