Intisari Berita
- Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026, ketika Bulan tidak mampu menutupi Matahari seluruhnya sehingga terbentuk lingkaran cahaya seperti cincin.
- Jalur utama gerhana di Antartika, sebagian bisa dilihat di Afrika selatan, Amerika Selatan, Madagaskar, dan Mauritius; Indonesia tidak dapat melihatnya.
- Risiko kerusakan mata lebih tinggi dibanding gerhana total karena cahaya Matahari tetap terpancar. Cahaya kuat dapat menyebabkan solar retinopathy (luka bakar pada retina), seperti yang diperingatkan oleh ahli optometri dari University of Waterloo.
Jakarta—Fenomena gerhana matahari cincin dijadwalkan kembali menyapa Bumi pada 17 Februari 2026.
Berdasarkan data dari BMKG, peristiwa ini terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada posisi tepat segaris, namun piringan Bulan yang teramati dari Bumi memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan piringan Matahari. Akibatnya, pada puncak gerhana, piringan Bulan tidak mampu menutup seluruh cahaya sang surya secara sempurna, sehingga meninggalkan lingkaran cahaya di bagian pinggir yang menyerupai cincin api di langit.
Wilayah utama yang akan dilintasi oleh jalur gerhana ini adalah Antartika, sementara gerhana matahari sebagian dapat terlihat di Afrika bagian selatan, Amerika Selatan, hingga Madagaskar dan Mauritius. Menurut keterangan Thomas Djamaluddin, Pakar Astronomi dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) kepada Kompas.com, masyarakat di Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk melihat peristiwa ini karena konfigurasi jalur gerhana hanya melewati Pasifik Selatan dan Antartika.
Namun, meskipun secara visual sangat memukau, muncul sebuah kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap penglihatan manusia. Lalu, mengapa durasi puncak gerhana matahari cincin pada 17 Februari ini justru dianggap menyimpan risiko kerusakan mata yang lebih tinggi dibandingkan saat gerhana matahari total?
Ancaman Solar Retinopathy dan Ilusi Keamanan
Risiko utama saat mengamati gerhana matahari cincin terletak pada intensitas cahaya yang tetap terpancar meski piringan tengah matahari sudah tertutup. Mengutip laporan dari Space.com, Ralph Chou selaku profesor emeritus di School of Optometry & Vision Science, University of Waterloo, menjelaskan bahwa cahaya matahari yang sangat kuat dapat memicu reaksi kimia berbahaya pada retina, bagian belakang mata yang sensitif terhadap cahaya. Kondisi medis ini dikenal sebagai solar retinopathy. Ralph Chou memperingatkan, “Saya pernah melihat kasus di mana pasien menunjukkan luka bakar berbentuk bulan sabit di bagian belakang matanya.”
(Foto: Gerhana tahunan yang diambil dari titik tengah gerhana di Utah Selatan (38.75983° N, 112.5573° W) pada waktu titik tengah gerhana pukul 10:28:18, ketika gerhana menutupi 97,2% matahari sehingga Bulan berada tepat di tengah Matahari. Dpickd1; CC BY 4.0)












