Intisari Berita
- Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menemukan adanya stok timah lebih dari 3.000 ton yang masih mengendap di gudang PT Timah dan belum dibayarkan kepada mitra.
- Dalam kunjungan ke Kantor Bupati Belitung Timur, Rabu (4/3/2026), Hidayat menegaskan bahwa kondisi ini merugikan mitra lokal dan berpotensi memicu aksi protes. Ia mendesak PT Timah segera menyiapkan dana talangan dan menyelesaikan kewajiban pembayaran pada bulan Maret agar masyarakat tidak dirugikan.
- Hidayat mengingatkan manajemen PT Timah untuk tidak bersikap semaunya sendiri dan segera mengambil tanggung jawab penuh, demi menjaga kepercayaan mitra serta stabilitas sosial di daerah.
Belitung Timur – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, mengungkapkan temuan mengejutkan terkait stok timah yang belum dibayarkan kepada mitra PT Timah.
Dalam wawancara di Kantor Bupati Belitung Timur, Rabu (4/3/2026), Hidayat menyebut adanya lebih dari 3.000 ton timah mengendap di gudang. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran besar karena menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada kerja sama dengan PT Timah.
“Gudang timah itu sampai 3.000 ton lebih, ada apa? Saya berharap PT Timah segera mempunyai dana talangan supaya rakyat tidak dirugikan,” ujarnya.
Desakan Pembayaran Segera
Hidayat menegaskan, PT Timah harus menyelesaikan kewajiban pembayaran pada Maret ini. Ia menilai kondisi tersebut sangat merugikan mitra lokal, terutama para penambang dan pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari hasil kerja sama dengan perusahaan.
“Jangan semaunya sendiri PT Timah. Ada barang bukti gitu, nanti didemo, Bupati kena, Gubernur kena,” tegasnya.
Menurutnya, manajemen PT Timah harus segera mengambil tanggung jawab penuh agar kepercayaan mitra dan masyarakat tetap terjaga. Bila tidak, potensi aksi protes terbuka lebar dan bisa menimbulkan instabilitas sosial di daerah.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Stok timah yang mengendap tanpa kejelasan pembayaran berpotensi menimbulkan efek domino:
- Mitra lokal kehilangan modal kerja, sehingga aktivitas ekonomi tersendat.
- Pemerintah daerah ikut terdampak karena tekanan sosial bisa berujung pada demonstrasi.
- Kepercayaan publik terhadap PT Timah menurun, yang dapat memengaruhi iklim investasi di Bangka Belitung.
Hidayat menekankan bahwa keberadaan PT Timah sebagai perusahaan besar seharusnya menjadi penopang ekonomi masyarakat, bukan sebaliknya menimbulkan keresahan. Ia meminta agar perusahaan segera menyiapkan skema dana talangan untuk membayar mitra, sehingga roda ekonomi tetap berjalan.
Latar Belakang
PT Timah merupakan salah satu perusahaan strategis di Indonesia yang mengelola komoditas timah, dengan kontribusi besar terhadap ekspor nasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini kerap menghadapi sorotan terkait tata kelola, transparansi, dan hubungan dengan mitra lokal.
Temuan Hidayat Arsani menambah daftar panjang persoalan yang harus segera ditangani agar tidak menimbulkan krisis kepercayaan di tingkat daerah maupun nasional.
–












