MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 29 September 2026 – Nilai tukar Rupiah resmi menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin 29 September 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 11:06 WIB, Rupiah berada di level Rp18.014 per Dolar AS. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, Rupiah dibuka di Rp18.000 dan sempat bergerak di rentang Rp17.900 hingga Rp18.050, dengan pelemahan 0,12 persen.
Anjloknya Rupiah ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang menekan mata uang emerging market.
Faktor Penyebab Pelemahan
Pengamat ekonomi INDEF Abra Talattov menjelaskan ada lima faktor utama. Pertama, fenomena Strong Dollar yang menekan hampir seluruh mata uang Asia. Kedua, lonjakan harga minyak dunia yang mencapai USD 108 per barel yang memicu inflasi global.
Ketiga, kebijakan bank sentral AS The Fed yang membuat Yield US Treasury naik ke 5,23 persen, level tertinggi sejak tahun 2007, sehingga permintaan terhadap Dolar semakin kuat. Keempat, kebutuhan valas importir yang meningkat karena memasuki akhir kuartal III. Kelima, arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
“Strong dollar menekan mata uang Asia, harga minyak tinggi memicu inflasi global, dan yield Treasury AS yang tertinggi sejak 2007 membuat dolar makin kuat,” jelas ringkasan analisis.
Respons Bank Indonesia
Menanggapi pelemahan ini, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi pasar.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut BI melakukan operasi moneter pro-market melalui transaksi Spot, DNDF, dan SBN untuk stabilisasi kurs.
BI menegaskan depresiasi Rupiah masih dalam batas wajar dan terkendali. Hal ini didukung oleh cadangan devisa Indonesia yang masih kuat di level USD 146,5 miliar per akhir Agustus 2026.
Bank Indonesia memastikan akan terus memantau pergerakan Rupiah dan menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai fundamental.












