Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Life skill
  • Kunjungan Langka Ibarruri Aidit ke Belitung 2015: Pulang Kampung, Ziarah, dan Menautkan Kembali Akar Keluarga DN Aidit
InShot 20260930

Kunjungan Langka Ibarruri Aidit ke Belitung 2015: Pulang Kampung, Ziarah, dan Menautkan Kembali Akar Keluarga DN Aidit

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, Belitung – Juli 2015 menjadi momen yang tak biasa bagi keluarga besar Dipa Nusantara Aidit di Belitung. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, putri sulung DN Aidit, Ibarruri Aidit, pulang kampung ke tanah kelahiran ayahnya.

Perempuan yang lahir di Jakarta, 23 November 1948 itu datang bersama adiknya, Ilham, serta anak-anak mereka. Bukan untuk kegiatan politik, melainkan untuk liburan, silaturahmi keluarga, dan berziarah ke makam orangtuanya. Sebuah kunjungan yang bersifat sangat personal, namun memiliki makna historis yang dalam.

Ibarruri sendiri telah lama menetap di Prancis. Sejak 1981, ia menjadi warga negara Prancis dan berprofesi sebagai dokter di Paris. Kehidupannya jauh dari Belitung, baik secara geografis maupun jejak waktu.

Empat Kali ke Belitung Seumur Hidup

Dalam kunjungan tersebut, Ibarruri mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Belitung pada 2015 itu baru yang keempat kalinya seumur hidupnya. Sebuah angka yang kecil, mengingat Belitung adalah akar keluarganya.

Kunjungan pertamanya terjadi pada tahun 1955, ketika ia masih berusia 7 tahun. Saat itu ia ikut ayah dan ibunya berlayar dengan kapal laut dari Jakarta menuju Belitung. Kenangan itu masih lekat, tentang sebuah pulau yang tenang dengan keluarga besar yang menyambut hangat.

Setelah itu, jarak waktu menjadi sangat panjang. Peristiwa 1965 mengubah segalanya. Keluarga DN Aidit menjadi sasaran stigma politik yang berat di masa Orde Baru. Ibarruri yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Uni Soviet dan kemudian di China, tidak bisa kembali ke Indonesia. Ia akhirnya memilih eksil dan menetap di Prancis.

Baru setelah reformasi 1998, pintu untuk kembali terbuka. Ia tercatat baru berani pulang ke Indonesia pada 1999. Dan untuk kembali ke Belitung, butuh waktu lebih lama lagi.

“Kegiatannya di sini berlibur, soalnya ketemu keluarga paling sering setahun sekali. Ini kesempatan anak-anak berlibur, kebetulan keluarga di pihak ayah banyak di Belitung,” kata Ibarruri saat ditemui di Tanjungpandan pada Juli 2015.

“Seminggu sebenarnya kurang, mungkin nanti sewaktu-waktu akan datang lagi dan lebih panjang waktunya,” tambahnya.

Ziarah dan Silaturahmi: Tujuan Utama

Selama di Belitung, agenda utama Ibarruri bukanlah wisata ke pantai-pantai granit yang kini terkenal itu. Agenda utamanya adalah silaturahmi.

Ia mengunjungi rumah-rumah kerabat dari pihak ayah yang masih banyak menetap di Belitung Timur dan Tanjungpandan. Banyak dari mereka adalah sepupu dan keponakan jauh yang tidak pernah ia temui selama puluhan tahun. Pertemuan itu berlangsung haru, dengan bahasa Belitung yang masih ia ingat samar-samar.

Selain itu, ia juga melakukan ziarah ke makam keluarga, termasuk makam orangtua DN Aidit, yang merupakan kakek-neneknya. Ziarah ini menjadi simbol penting, bahwa ikatan darah dan keluarga tetap dijaga meski sejarah politik telah memisahkan mereka begitu lama.

Bagi keluarga di Belitung, kedatangan Ibarruri juga menjadi obat rindu. Selama puluhan tahun, mereka hanya bisa mendengar kabar dari jauh, tanpa bisa berkomunikasi intens karena keterbatasan dan situasi politik masa lalu.

DN Aidit dan Belitung: Jejak Sejarah yang Tak Terhapus

Kisah Ibarruri tidak bisa dilepaskan dari siapa ayahnya. DN Aidit lahir di Belitung pada 30 Juli 1923. Ia adalah putra Belitung yang kemudian menjadi salah satu tokoh politik paling berpengaruh di Indonesia pada era 1950-an hingga 1965 sebagai Ketua CC PKI.

Belitung pada masa itu melahirkan banyak tokoh nasional. Namun setelah peristiwa G30S 1965, nama Aidit menjadi tabu untuk dibicarakan secara terbuka di kampung halamannya sendiri. Keluarga yang tersisa di Belitung memilih untuk hidup diam dan tidak menonjolkan hubungan kekerabatan tersebut.

Karena itu, kunjungan Ibarruri pada 2015 memiliki nilai rekonsiliasi tersendiri. Ia datang bukan sebagai anak tokoh PKI, melainkan sebagai seorang cucu, keponakan, dan kerabat yang pulang kampung. Masyarakat Belitung yang ditemuinya pun menyambutnya sebagai keluarga, bukan sebagai simbol politik.

Seorang kerabat di Desa Lilangan, Belitung Timur, bahkan menyebut bahwa keluarga Aidit di Belitung adalah keluarga yang religius dan bersahaja, jauh dari narasi politik yang melekat di tingkat nasional.

Hidup sebagai Dokter di Paris

Sejak 1981, Ibarruri telah menjadi warga negara Prancis. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan berpraktik sebagai dokter di Paris. Kehidupan di Paris ia jalani dengan tenang, jauh dari sorotan media Indonesia.

Dalam otobiografinya yang terbit pada 2015 berjudul “Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara”, yang ia tulis bersama Richard Wright, Ibarruri banyak menceritakan sisi lain ayahnya sebagai seorang ayah yang penyayang dan humoris di rumah, yang sangat berbeda dengan citra publiknya sebagai orator yang berapi-api.

Buku itu ia tulis bukan untuk membela PKI secara ideologis, melainkan untuk memberikan perspektif kemanusiaan, bahwa keluarga tokoh sejarah juga memiliki hak untuk bercerita dan memiliki kenangan personal.

“Saya hanya ingin orang tahu bahwa ayah saya juga seorang manusia, seorang ayah bagi anak-anaknya,” tulisnya dalam salah satu bagian buku.

Nilai Aktual di 2026: Sejarah, Wisata, dan Rekonsiliasi

Kini di tahun 2026, kisah kunjungan Ibarruri 11 tahun lalu itu kembali relevan untuk dibaca dalam konteks yang lebih luas.

Pertama, Belitung telah bertransformasi menjadi destinasi wisata super prioritas dengan status UNESCO Global Geopark. Namun di balik keindahan pantainya, pulau ini juga menyimpan lapisan sejarah nasional yang kompleks, dari sejarah pertambangan timah kolonial hingga lahirnya tokoh-tokoh nasional seperti DN Aidit. Wisata sejarah Belitung seharusnya juga mencakup narasi-narasi personal seperti ini.

Kedua, kunjungan Ibarruri menunjukkan bagaimana generasi kedua dari korban konflik politik 1965 mencoba berdamai dengan masa lalu dengan cara yang paling sederhana: pulang kampung, bertemu keluarga, dan berziarah. Ini adalah bentuk rekonsiliasi kultural yang terjadi di tingkat akar rumput, tanpa perlu seremoni negara.

Ketiga, bagi generasi muda Belitung hari ini, nama DN Aidit mungkin hanya ada di buku pelajaran sejarah. Kehadiran putrinya memberikan wajah yang lebih manusiawi dan utuh, bahwa tokoh sejarah juga memiliki keluarga yang terdampak dan harus menjalani eksil panjang.

Ibarruri sendiri berjanji akan datang lagi dengan waktu yang lebih lama. Entah apakah janji itu sudah terwujud setelah 2015, namun jejak kunjungannya saat itu telah meninggalkan catatan penting: bahwa Belitung, bagi keluarga Aidit di perantauan, tetaplah rumah.

Rumah yang mungkin lama tidak dikunjungi, tetapi tidak pernah benar-benar dilupakan.

Artikel Terkait

IMG 20260930 WA1831

Belitung Tetapkan 12 Cagar Budaya,…

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, Belitung –…

InShot 20260930

Ade Irma Suryani Nasution: Putri…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 30 September…