
oleh : Akhlanudin
Ri kawasan Lipat Kajang Manggar menyimpan jejak kolonialisme Belanda yang membentuk wajah ekonomi, infrastruktur, dan struktur sosial Belitung Timur.
Meski tidak setenar pusat tambang seperti Tanjungpandan, Lipat Kajang memainkan peran penting sebagai simpul teknis dan logistik dalam jaringan industri timah kolonial.
Bengkel Billiton: Jantung Industri Kolonial
Pada awal abad ke-20, Lipat Kajang menjadi lokasi bengkel utama perusahaan tambang Billiton Maatschappij, perusahaan Belanda yang menguasai eksploitasi timah di Belitung.
Bengkel ini bukan sekadar tempat perbaikan alat tambang, tetapi juga pusat inovasi teknis dan distribusi logistik. Di sinilah mesin-mesin berat diperbaiki, kapal-kapal kecil dirakit, dan peralatan tambang disiapkan untuk dikirim ke lokasi-lokasi eksploitasi.
Bangunan-bangunan kolonial bergaya Belanda—berdinding papan tebal, berteras lebar, dan beratap seng—menjadi ciri khas kawasan ini.
Beberapa masih berdiri, meski telah beralih fungsi atau mengalami pelapukan. Lipat Kajang, dalam konteks ini, bukan hanya ruang kerja, tetapi juga ruang kendali kolonial atas sumber daya alam dan tenaga kerja lokal.
Pemisahan Sosial dan Pola Pemukiman
Seiring berkembangnya bengkel dan aktivitas tambang, Belanda menerapkan pemisahan ruang sosial yang mencerminkan struktur kolonial.
Para pekerja lokal, termasuk komunitas Suku Laut dan pendatang dari Jawa dan Tionghoa, tinggal di pemukiman padat di sekitar pasar dan sungai. Sementara staf kolonial dan teknisi Belanda menempati rumah dinas yang lebih luas dan terpisah.
Pola ini menciptakan hierarki sosial yang kaku, di mana akses terhadap fasilitas, pendidikan, dan layanan kesehatan sangat bergantung pada posisi dalam struktur kolonial.
Lipat Kajang menjadi contoh nyata bagaimana ruang fisik digunakan untuk memperkuat dominasi politik dan ekonomi.
Kadjang dan Suku Laut: Asal Usul Nama dan Peran Lokal
Nama “Lipat Kajang” sendiri berasal dari kadjang, yaitu perahu beratap kajang yang digunakan oleh komunitas Suku Laut untuk berdagang hasil laut.
Mereka menjajakan ikan, kerang, dan hasil tangkapan lainnya langsung dari atas perahu di tepian sungai. Aktivitas ini menjadi cikal bakal pasar Lipat Kajang, jauh sebelum Belanda membangun bengkel dan gudang.
Namun, dalam struktur kolonial, peran Suku Laut dan masyarakat lokal sering kali terpinggirkan.
Mereka menjadi penyedia tenaga kasar, sementara keuntungan ekonomi dan kendali atas sumber daya tetap berada di tangan perusahaan kolonial.
Warisan Bahasa dan Budaya
Pengaruh Belanda juga tercermin dalam bahasa dan istilah lokal. Kata “bengkel,” “onderdistrik,” dan bahkan “kadjang” memiliki akar dari interaksi kolonial.
Arsip-arsip Belanda, seperti film dokumenter Honderd Jaar Billiton, menyebut Lipat Kajang sebagai bagian dari sistem industri yang lebih besar, meski hanya sebagai latar teknis.
Warisan ini masih hidup dalam cerita masyarakat, foto-foto lama, dan bangunan yang tersisa.
Tokoh seperti Tanzil Mat Adi, yang menyumbangkan arsip visual dan narasi tentang Warung Kopi Beringin tahun 1938, berperan penting dalam melestarikan memori kolektif Lipat Kajang.
Eksploitasi dan Ketimpangan
Seperti di banyak wilayah Indonesia, kolonialisme Belanda di Lipat Kajang membawa eksploitasi sumber daya alam dan manusia.
Timah diambil, tenaga kerja diperas, dan ruang hidup masyarakat lokal diatur sesuai kepentingan industri. Ketimpangan ini meninggalkan luka sejarah yang masih terasa, meski kini dibungkus dalam nostalgia dan romantisme kolonial
Dari Bengkel ke Warisan
Lipat Kajang bukan sekadar kawasan tua di Manggar. Ia adalah ruang sejarah, tempat bertemunya perahu Suku Laut dan mesin kolonial, tempat berlangsungnya interaksi antara adat dan industri.
Memahami pengaruh kolonialisme di sini bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga menyusun ulang narasi lokal agar lebih adil, inklusif, dan berakar pada suara masyarakat.












