Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Puisi-Puisi Edy Sukardi: Panen Dunia dan Akhirat dalam Untaian Kata
Inshot 20251112 003153552

Puisi-Puisi Edy Sukardi: Panen Dunia dan Akhirat dalam Untaian Kata

Img 20251112 154251

Bogor, daulatrakyatco.co.id – DR. H. Edy Sukardi, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya yang juga dikenal sebagai seorang sastrawan Indonesia, kembali menghadirkan karya-karya puisinya yang sarat makna. Salah satu puisi yang menonjol adalah “Panen,” yang menggambarkan keindahan musim buah di Indonesia serta refleksi mendalam tentang kehidupan dan persiapan menuju akhirat. Puisi ini dipublikasikan pada 11 November 2025.

Dalam puisi “Panen,” Edy Sukardi melukiskan suasana bulan November dan Desember di Indonesia sebagai musim panen buah-buahan seperti durian, manggis, mangga, rambutan, dan cempedak.

Ia mengajak pembaca untuk menikmati hasil alam yang melimpah ini. Namun, lebih dari sekadar deskripsi keindahan alam, puisi ini juga menyampaikan pesan tentang pentingnya “bercocok tanam” untuk kehidupan akhirat.

“Alangkah senangnya mereka yang bertanam, kini mereka memanen apa yang ia usahakan,” tulis Edy Sukardi dalam puisinya. Bait ini menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan di dunia akan membuahkan hasil di kemudian hari.

Sebaliknya, puisi ini juga memberikan peringatan bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri dengan amal kebajikan. “Sudah kau betanam untuk akhiratmu? Kalau kau tak menanam, bagaimana kau akan memetik, akan panen?”

Puisi ini mencapai klimaksnya dengan penyesalan seseorang yang meminta untuk dikembalikan ke dunia meski hanya sehari atau sekejap untuk bersedekah.

Namun, penyesalan itu datang terlambat. “Sudah telat mas, kemarin kau kemana saja?” Kalimat ini menjadi teguran keras bagi mereka yang menunda-nunda berbuat baik.

Melalui puisi “Panen,” Edy Sukardi mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan, pentingnya bersyukur atas nikmat yang diberikan, serta perlunya mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian dengan berinvestasi amal kebajikan.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa hidup di dunia adalah kesempatan untuk menanam kebaikan yang akan dipanen di akhirat kelak.

Edy Sukardi, selain dikenal sebagai rektor, juga aktif dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karyanya seringkali mengangkat tema-tema sosial, keagamaan, dan kemanusiaan dengan bahasa yang sederhana namun mendalam.

Puisi “Panen” ini adalah salah satu contoh bagaimana ia mampu menggabungkan keindahan alam dengan pesan-pesan moral yang relevan bagi kehidupan sehari-hari.

Identitas Karya

  • Judul Puisi: Panen ESu
  • Penulis: Edy Sukardi
  • Tanggal Penulisan: 12 November 2025
  • Tempat Penulisan: Pisangan Timur
  • Media Publikasi: Media Daulat Rakyat
  • Kategori: Puisi reflektif-spiritual
  • Tema Sentral: Kesadaran akan pentingnya menanam amal sebagai bekal akhirat
  • Gaya Bahasa: Naratif, repetitif, dengan diksi sederhana namun menyentuh
  • Nada: Kontemplatif, menggugah, dan penuh peringatan moral

Puisi “Panen ESu” karya Edy Sukardi adalah refleksi spiritual yang menyentuh, mengajak pembaca merenungi makna menanam amal dan menuai hasilnya di akhirat.

Dalam puisi “Panen ESu” yang dimuat oleh Media Daulat Rakyat, Edy Sukardi—Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya dan sastrawan Indonesia—menyajikan sebuah karya yang memadukan suasana panen buah-buahan dengan pesan moral dan spiritual yang mendalam.

Puisi ini ditulis pada 12 November 2025 di Pisangan Timur, dan menggambarkan bulan November–Desember sebagai musim panen buah di negeri kita: durian, manggis, mangga, rambutan, cempedak, dan lainnya.

Gaya dan Struktur
Puisi ini menggunakan gaya naratif yang lugas namun penuh makna. Dengan diksi sederhana dan repetisi yang efektif (“Sudah kau betanam untuk akhiratmu”), Edy Sukardi menyampaikan pesan bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal, dan akhirat adalah tempat panen.

Struktur baitnya mengalir seperti percakapan batin, dengan klimaks pada penyesalan seorang hamba yang ingin kembali ke dunia “walau sehari, walau sekejap” untuk bersedekah—namun sudah terlambat.

Tema dan Makna
Tema utama puisi ini adalah kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral. Panen buah menjadi metafora bagi hasil amal perbuatan.

Ada kontras antara mereka yang menanam dan kini memanen, dengan mereka yang lalai dan tak punya bekal. Kalimat “Sudah telat mas, kemarin kau kemana saja” menjadi pukulan batin yang menggugah, mengingatkan bahwa waktu tak bisa diputar kembali.

Konteks Penulis
Sebagai seorang akademisi dan tokoh publik, Edy Sukardi menulis dengan suara yang menggabungkan pengalaman hidup, nilai-nilai keislaman, dan kepedulian sosial. Puisinya bukan sekadar karya sastra, tetapi juga dakwah yang menyentuh hati, mengajak pembaca untuk introspeksi dan bertindak.

Refleksi
Puisi ini sangat relevan bagi masyarakat yang sedang sibuk dengan urusan dunia. Ia mengajak kita untuk tidak menunda amal, karena “kalau kau tak menanam, bagaimana kau akan memetik?”

Dalam konteks sosial dan budaya Indonesia, puisi ini juga bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap gaya hidup konsumtif dan pengabaian terhadap nilai spiritual.

Editor : Akhlanudin

Fb img 1759155988254
Fb img 1759155898740

Artikel Terkait

InShot 20260421

Puisi-puisi Edy Sukardi

Kenali siapa dirimu Kau tak pernahhidup…

InShot 20260418

Bandara Hanandjoeddin Siap Sambut Scoot

Intisari Berita Tanjung pandan Belitung -Bandara…

InShot 20260418

Dishub Belitung Siapkan Tiga Kantong…

Intisari Berita Tanjung pandan Belitung –…